Setelah enam tahun mengabdi dengan segala bentuk drama birokrasi, akhirnya gue bisa bilang dengan bangga sambil pamerin pin fungsional di dada dan pangkat garis dua emas di bahu: PERMISI, PRAKOM MAU LEWATTTTT.
Anjayyy. Silakan batunya diambil teman-teman. Usahakan kena kepala.
Tapi sebelum sampai ke titik itu, ada satu fase yang layak diceritain: gimana proses tes sampai dilantiknya dari awal. Tahapannya panjangggg banget, persis kek sinetron tukang bubur naik haji.
Gue pikir ini cuma urusan daftar, ikut ujian, lalu nunggu pengumuman sambil santai nyiapin caption foto pelantikan. Nyatanya, sejak daftar sampai hari H, semuanya penuh momen bengong dan bikin hah heh hoh. Perjalanan naek gaji emang seribet itu, ya.
Awalnya dimulai dari chat temen kantor, si Zikri. Doi merupakan junior gue di kantor dan kampretnya udah jadi Prakom sejak zaman megawati.
Dari surat itu, batas akhir submit form pendaftaran adalah 22 Maret. Tapi gue santai. Terlalu santai malah. Isi kepala gue masih debat internal: ikut apa nggak, atau sekalian cari JFT lain yang namanya lebih ramah di kuping.
Tanggal 19 Maret, entah angin dari mana, tiba-tiba gue kepikiran buat daftar. Padahal salah satu syarat pentingnya adalah rekomendasi pimpinan, yang itu aja udah bikin mikir dua kali. Belum lagi harus nyiapin PAK, yang konon kabarnya adalah dokumen keramat buat naik pangkat. Intinya, selain harus yakin sama diri sendiri, gue juga harus yakin kalo orang lain mau tanda tanganin masa depan gue.
21 Maret, surat rekomendasi pimpinan resmi turun. Gue kirim ke pusat karena masih butuh surat pengantar, dan ajaibnya, hari itu juga langsung kelar. Sat-set tanpa drama. Keren emang kementerian gue. Bentar, mau cium logonya dulu.
Selanjutnya, hidup gue resmi masuk fase nunggu. Nunggu jadwal pengumuman, nunggu kapan THR lebaran. Setiap buka email, deg-degan. Setiap notif masuk, berharap dari panitia. Ternyata dari Akulaku: “Hai, jangan lupa bayar tagihan Akulaku ya.” Anti klimaks.
Hari-hari berikutnya diisi dengan sok sibuk. Pura-pura santai di kantor, padahal kepala isinya skenario terburuk: kalo ga lolos gimana ya, kalo gagal gimana ya, kalo Prabowo dikudeta gimana ya. Tapi di luar itu semua, gue tetap bertingkah seperti pegawai dengan gaji rendah pada umumnya. Dateng, narok tas, berak. Repeat.
Sampai akhirnya jadwal tes keluar. Gue baca pengumumannya pelan-pelan: 24 April 2025 di BPS Provinsi Sumsel. Lokasi serius, tanggal serius, mental bercanda.
Sebelum ujian, kita dimasukin ke grup WhatsApp peserta regional Sumsel. Disitu dibagiin modul, kisi-kisi, dan materi PDF yang namanya sangat ngga ramah lingkungan. Grupnya mendadak aktif, isinya orang-orang saling sapa sok santai, padahal keliatan jelas ini semua lagi panik berjamaah. Gue download semua materi, soal dibaca atau nggak, itu nanti. Yang penting sudah ada di HP, biar pas gagal bisa bilang: “Gue sebenernya punya bahannya, cuma ga gue baca. Sengaja, mau ngetes ilmu.”
Anjay. Kelas.
Di luar materi resmi, gue juga belajar dari grup Telegram CPNS Prakom. Grup yang isinya campur aduk antara orang jenius, orang sok jenius, dan orang yang tiap hari nanya hal yang sama tapi dengan kata-kata berbeda. Berdasarkan pengalaman waktu ikut CPNS dulu, grup kayak gini justru lebih berguna daripada modul resmi, karena isinya sharing soal langsung, bukan sekedar teori.
Gue juga belajar dari ChatGPT. Awalnya gue kira ini aplikasi khusus buat curhat jam dua pagi, nanya hal-hal receh, atau minta validasi pas hidup lagi kacau. Tapi ternyata bisa juga dipake buat belajar Prakom. Keren.
Ini salah satu
contohnya. Tips biar hapal 7 OSI Layer. Nangka ga lu pada?
Hari peperangan pun tiba: 24 April 2025. Sebelum berangkat, tentu saja gue cium tangan istri sambil minta doa, dan minta duit parkir. Karena dalam rumah tangga, doa itu penting, tapi receh dua ribuan jauh lebih penting.
Gue berangkat ke kantor dulu buat finger absen. Iya, karena gue cuma izin setengah hari ke koordinator. Setengah hari kerja, setengah hari mengejar takdir (dan jabatan). FYI, hampir nggak ada yang tau kalau gue lagi ujian. Sengaja, biar kalau nggak lulus, ga malu-malu banget. Tapi kalau lulus, seluruh dunia harus tau. Wkwkw




