Orang Khilaf

Kamis, 04 Desember 2014

Tentang Harapan yang Tercapai



Assalammualaikum

Entahlah, gue bingung mau ngebuka postingan ini darimana. Kelamaan nggak nulis bikin gue nggak bisa apa-apa. Nggak bisa apa-apa disini maksudnya gue bukan nggak bisa apa-apa beneran. Masa’ iya gue nggak bisa makan ? masa’ iya gue nggak bisa tidur ? masa’ iya gue nggak bisa move on ?

Sebenernya banyak, banyaaaak banget yang pengin gue tulis diblog ini. Mengenai masalah kuliah, masalah Asean University Games. Pokoknya banyak lah. Tinggal kalian aja yang pilih mau baca ato enggak. Gue saranin sih gak usah baca, takutnya entar kalian hamil. Entah apa hubungannya.

Baiklah, abaikan semua kalimat bijak nan barokah diatas.

Jadi beberapa hari yang lalu (oke, mungkin tepatnya beberapa bulan yang lalu), fakultas gue, Fakultas Ilmu Komputer Unniversitas Sriwijaya mengadakan suatu acara. Acara apa itu ? Yang jelas, acara ini bisa membuat orang yang nggak bisa makan nasi pakek sumpit sekalipun, akhirnya jadi bisa. Sehebat itukah acara itu ? Acara itu adalah Lomba MTQ Fasilkom UNSRI (iya, iya, acaranya emang nggak nyambung sama makan nasi pakek sumpit, biarin aja, manjangin postingan)

 
ini pamfletnya..

Acara ini diadakan oleh Lembaga Dakwah Fakultas Wahana Islamiyah dan Forum Ilmu (LDF WIFI) Fasilkom UNSRI. Karena kebetulan gue juga merupakan pengurus di organisasi ini, jadilah gue pun ikut mempersiapkan acaranya demi menyukseskan lomba MTQ Fasilkom yang pertama ini.

Di lomba ini, kita telah menyiapkan 9 mata lomba: lomba Sab’ah, Tilawah, dan Tartil Quran, lomba Syahril dan Fahmil Quran, lomba Khattil dan Hifzil Quran, serta yang terakhir lomba Debat Bahasa Inggris dan Bahasa Arab. Bagi yang baru pertama kali denger istilah-istilah diatas, gue maklumi, gue juga agak kaget pas ngedenger kata-kata diatas, sangat tidak familiar dengan telinga gue. Gimana nggak pernah denger coba, dari jaman gue SMA, paling banter juga ROHIS gue ngadain lomba Tilawah Quran, Iklan islami, Cepat Tepat Islami, dan semuanya yang namanya masih bisa dimengerti. Nah sekarang ? behh.

Tapi alhamdulilah, setelah gue tanya ke om Google, jadi gue udah agak paham artinya. Lomba Sab’ah itu lomba membaca Al-Quran dengan menggunakan lagu-lagu. Lagu-lagunya kan banyak, salah satunya adalah Bayati. Selanjutnya, Fahmil itu nama lain dari lomba cepat tepat islami, Hifizil itu lomba Hafidz quran yang kayak di tipi-tipi itu. Sedangkan Syahril itu lomba tausiyah berkelompok, dan lomba Khattil itu lomba menggambar kaligrafi islami.

Gimana, udah agak paham kan ? kalo masih belum, silakan tanyakan ke Google, gue udah nyerah jelasinnya *lambain tangan*

Kegiatan ini diadakan untuk mencari bibit-bibit pejuang muda, mereka yang selain berorientasi terhadap akademik, mereka juga berorientasi kepada agamanya. Mereka yang selalu dekat dengan Tuhannya, mereka yang selalu tegak disaat cobaan badai menerpa, mereka yang tidak pernah galau ketika mendengar lagu Geisha.

Berhubung panitia diperbolehkan untuk mengikuti lomba ini, gue pun berantusias mengikuti lombanya. Lomba yang gue ikuti adalah lomba Fahmil, Hifzil 1 juz, dan Tartil Quran.

Oke, berhubung gue males ngetik, langsung aja gue kasih liat gambar-gambar pesertanya. Karena gue tau juga, kalian yang komentar nanti juga paling cuma ngeliat gambar, baca satu paragraf, dan langsung close tab. -,-
 

Ini waktu pembukaan yang dibuka langsung oleh Pembantu Dekan III, Bapak Mgs. Afriyan Firdaus.
 
salah satu peserta lomba Tilawah Al-Quran,
bukan gue, yah. Bukan gue.
 



ini juga bukan gue..
 

apalagi ini -_-

Singkat cerita, semua lomba udah berlangsung selama 2 hari, dan kampretnya, nggak ada satupun yang ngambil foto gue. ‘Sakitnya tuh disini’ mungkin lagunya Tata Citata itulah yang menggambarkan perasaan gue saat itu. Tapi nggak papa, sesuai kata orang tua gue, ‘wajah ganteng itu nggak baik buat difoto, nanti bisa jadi objek santet’. Sebuah wejangan yang sangat berguna untuk orang-orang bermuka tamfan seperti saya.

Sebenernya semua postingan diatas nggak ada yang penting, karena bukan itu yang mau gue ceritain. Tapi, inilah yang mau gue ceritain sebenernya: gue jadi juara lombanya. Keren. Nggak percaya ? Nih..
  

Lomba Fahmil: Juara 1
*sujud syukur *
 

Lomba Tartil Quran: Juara 2
* tepuk tangan *
 
Lomba Hifzil Quran 1 Juz: Juara 1
*sujud syukur sambil tepuk tangan*
 
Salah dua hadiahnya: Al-Quran saku + Buku Agenda
 

Sayang banget, pas pengumuman pemenangnya, gue gak sempet hadir, jadi nggak difoto. Soalnya pas waktu pengumuman, gue lagi beli konsumsi buat makanan peserta. Sungguh sial sekali nasib manusia tamfan ini.


***


Jujur yah, gue nggak ada niat apapun ngeposting tulisan ini. Nggak ada niat buat riya’ sedikitpun, cuma mau pamer aja. Tapi jujur, gak ada niat sedikitpun. Karena gue takut, bukan jadi postingan motivasi, malah jadi postingan perusak hati, gara-gara banyak yang iri.

Selain itu, gue nulis ini karena ini merupakan salah satu peristiwa terbesar dalam hidup gue, peristiwa yang momennya gue catat di lembar “Dream Note” gue. Disana ada tercatat salah satu harapan gue yaitu: “Menjadi Penghafal Al-Quran minimal juz 30”.

Dan alhamdulilah, perjuangan gue dari lahir sampe sekarang itu nggak sia-sia. Tepat tanggal 5 Oktober 2014 lalu, gue resmi Insha Allah hapal juz 30. Dan sekarang di bulan desember ini, gue udah berhasil menghapal surat Ar-Rahman dan surat Al-Mursalat ayat ke-28. Sebuah hapalan ayat yang sangat minimal dibandingkan para anak-anak lain yang menghafal di Rumah Tahfidz Quran sebenernya.

Ini juga kebanggan buat gue karena ketika gue mengikuti lomba Hafidz Quran tingkat fakultas yang gue ceritain diatas, pas pengumumannya, ternyata gue dapet juara pertama. Sebuah raihan yang sangat membanggakan orang tua dan ketua RT setempat. Tapi pas gue maju ke tingkat yang lebih tinggi, lomba Hafidz tingkat Universitas Sriwijaya, alhamdululiah, Allah belum merestui gue untuk jadi juara, Dia masih nyuruh gue unutk banyak-banyak belajar, belajar benahi bacaan, benahi tajwid, dan banyak lagi :”)

FYI juga, proses gue menghapalin surat-surat ini secara sendiri, dan kadang tiap minggu, gue setor hapalan gue itu ke Murabbi gue pas kita lagi Halaqah. Itulah sebabnya kata juri lomba Hafidz kemaren, hapalan gue itu masih belum ‘sah’, ibarat barang, hapalan gue itu istilahnya ‘barang black market’. Karena sesuai sifat penurunan Al-Quran itu sendiri yang sifatnya Mutawattir, yaitu ada periwatnya/silsilahnya (Dari Allah ke Jibril ke Nabi Muhammad ke sahabat, dan seterusnya).

Setelah ini, target gue adalah: “Tahun 2015, Hafalan bertambah (minimal) 1 juz”. Sebuah target yang harus bisa gue penuhi, bahkan gue lebihkan, semoga Allah memudahkannya. Amin.

Oke, kayaknya postingan ini kepanjangan, deh. Udah dulu, yah.


Wassalam

@willy_wili


Dan btw, postingan ini bukan riya’ kan ? bukan pamer kan ? ah bukan, iya bukan. tapi beneran bukan riya’ kan ? enggak-enggak, ini cuma curhat kok *ngomong sendiri*





Anda Mungkin Meminati

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...