Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Travelling. Tampilkan semua postingan

Singapura: Modal Nekat, Popmie, dan Guide Abal-Abal

0

Setelah diklat ditutup, Sabtu, adalah jadwal kosong. Sebelumnya kita udah sepakat buat extend sehari, jadi hari Sabtu itu bisa dipake buat jalan-jalan full, dan minggu pulang.

Di antara kita berempat, tiga orang ini udah pernah semua ke Singapura. Yang belum? Ya gue. Satu-satunya. Sendirian. Minoritas.

Makanya waktu gue lempar ide, “Gimana kalo sekalian ke Singapura?” Gue tuh setengah yakin, setengah ngga. Takutnya memberatkan. Tapi diluar ekspektasi, mereka malah santai. 

“Kalo semua mau, yaudah gasss...” ucapan dari Kak Nopri seolah-olah memperlebar asa gue melihat patung singa pancoran itu.

Yg ngajak gue, tapi yg antusias Andika. Lihatlah, dia sudah menyusun itinerary-nya dari jauh-jauh hari. Bahkan doi rela ngechat admin open trip supaya dapet bocoran one day trip. Dika emang keren, cocok jadi panitia. Panitia Kurban.

Sabtu pagi, kita berangkat ke pelabuhan Batam Center. Sampe disana langsung beli tiket penyeberangan di Sindo Ferry bolak-balik, harganya 730k. Abis itu langsung ke money changer. Kita nuker duit masing-masing 500k doang, dapet sekitar 37 dolar singapur.

Semua udah siap. Tiket di tangan, uang di dompet, paspor dipegang erat. Dengan mengucap bismillah, kita naik kapal. Di dalem, ada kali cuma 10 orang penumpang. Sepi banget.

Perjalanan ferry sekitar satu jam setengah. Gue duduk di pinggir jendela supaya bisa liat view. Sesekali cek paspor lagi, masih berasa nggak percaya. “Buset, ini gue beneran ya ke luar negeri…”

Beberapa puluh menit kemudian, gedung-gedung tinggi mulai keliatan. Skyline Singapura muncul pelan-pelan. Rapi. Bersih. Tertata. Kayak feed ig mba Amanda Zahra.

Kapal pun merapat ke HarbourFront, Singapura. Turun dari kapal, ikut arus orang jalan. Kalau tadi masih mode santai, sekarang masuk mode imigrasi: tegang abis. Serius, gue selalu dibilangin kalo imigrasi di Singapura itu kejam, sadis, pokoknya bikin deg-degan.

Antriannya mayan panjang. Semua orang diem. Gue pengen videoin buat footage, tapi kak Nopri dibelakang gue bilang, “Demi masa depan Indonesia, lebih baik jangan, Kisanak.” Oke. Gue nurut.

Giliran gue maju, gue kira paspor bakal dicap kayak di film-film. Gue udah siap buat motoin paspor buat masuk ig story dengan kepsen: Singapore (ceklis) Done. Tapi ternyata sekarang udah serba otomatis. Mode autogate. Tinggal tarok paspor di scanner, nunggu sebentar, terus disuruh liat kamera. Cekrek. Selesai. Cepet banget. Harapan buat posting foto paspor cap singapur pun hilang.

Tapi drama ternyata belum selesai. Di sebelah gue, Kak Nopri, gagal. Pas dia scan paspor, tiba-tiba muncul tulisan di layar: “Your SG arrival is…” pokoknya panjang lah. Dia panik. Gue ikut panik. Andika? Nggak. Karena dia udah lolos duluan dan berdiri santai di depan, nunggu kita kayak TKI ilegal yg udah biasa bolak-balik Indonesia-Singapura.

Nggak lama, petugas imigrasi langsung nyamperin Kak Nopri. Ngomong bahasa Inggris campur aksen Cina yang jujur aja susah dipahami. Kak Nopri bengong. Gue juga bengong. Untungnya, ternyata ada petugas imigrasi dari Indonesia yang lagi berjaga disitu. Dia langsung nyamperin dan bantu jelasin.

Ternyata masalahnya simpel. Kak Nopri belum isi SG Arrival Card (MyICA). Ituloh, form online yang wajib diisi turis sebelum masuk Singapura. Akhirnya Kak Nopri diajak ke ruangan tertentu buat isi datanya dulu.  

Usut punya usut, sebenarnya urusan MyICA ini harusnya aman. H-2 sebelum berangkat, Andika udah inisiatif ngurusin. Dia minta kita semua fotoin paspor masing-masing, katanya biar sekalian dia isiin formnya. Kita pun dengan polosnya percaya.

Paspor difoto, dikirim, urusan dianggap selesai. Ternyata, masalahnya disitu. Waktu foto paspor Kak Nopri, Andika salah baca huruf. Di aplikasi dia tulis nomor paspor F9xxxxx. Padahal yang benar… E9xxxxx. Satu huruf doang tapi efeknya terasa di imigrasi negara orang.

Dari situ, gue makin yakin satu hal: emang bener, jangan terlalu percaya sama Andika. 

Tebak, itu huruf E apa F?

Drama imigrasi selesai. Rombongan kembali utuh tanpa ada pertumpahan darah. Kita pun resmi menginjak Singapura.

Destinasi pertama: Sentosa Island. Tujuannya: foto di depan Universal Studios Singapore. Masuk? Nggak. Mahal. Intinya, Yang Gratis Gratis Aja.

Jujur, gue jalan2 disini bermodal trust aja sama Andika dan Kak Nopri. Kak Nopri pernah ke sini sekitar 8 bulan lalu. Lumayan masih fresh-lah ingatannya. Sementara Andika juga pernah ke Singapura. Tapi zaman kuliah, puluhan tahun lalu. Iya, Andika satu angkatan sama BJ. Habibie.

Jadi bisa dibilang, pengetahuan kita tentang Singapura itu kombinasi antara memori lama, memori setengah lama, dan modal nekat. Poinnya: memang nggak ada yang benar-benar bisa dipercaya buat jadi guide.

Singkat cerita, destinasi kita hari itu lumayan ambisius: Sentosa Island, Merlion Park, Marina Bay, Bugis Street, Jewel Changi Airport, dan terakhir Gardens by the Bay. Padat? Jelas. Modal liat di tiktok, semua tempat itu wajib didatangi. Meski si Andika dan Kak Nopri tetap misuh2 kejauhan dan kecapekan wkwk

Banyak hal yang bikin gue kagum sama Singapura. Mulai dari transportasinya, semua nyambung. Rapi dan terintegrasi. Bermodal kartu EZ-Link, kita bisa kemana aja naik MRT atau Bus. Buat orang yang datang dari negara yang sering bingung soal transit, ini rasanya praktis banget. Meski peta jalurnya kelihatan rumit, tapi ternyata gampang. Tinggal ikutin warna garis.

Yang susah itu… percaya sama orang yang ngajak. Andika jalan duluan dengan penuh keyakinan. Kita ikut di belakang. Sampai akhirnya dia berhenti, buka HP, dan cek Google Maps. Ternyata dia juga nggak yakin. Kocak.

Belum lagi soal warganya. Yang paling gue notice: mereka tertib. Orang-orang pada nyebrang di tempatnya. Nggak asal potong jalan. Bahkan waktu lampu merah dan jalanan lagi sepi pun, mereka tetap nunggu lampu hijau dulu baru jalan. Hal kecil sih. Tapi buat gue itu cukup bikin kagum. Salutlah pokoknya.

Lihatlah mas-mas tampan anak satu ini

Lalu datanglah momen yang selalu mengingatkan kita bahwa ini negara mahal: makanan. Kita lihat menu, hitung cepat di kepala: “Ini berapa rupiah ya?” 
Setelah dikali kurs. Kita langsung sepakat: makan promag aja.

Untungnya soal makan ini juga sempat kita akalin. Bermodalkan mental pedagang cina-nya Andika, dari Batam dia udah nyiapin logistik 6 cup popmie. “Buat bekal di Singapura,” katanya dengan penuh perhitungan. Minum juga katanya aman. Disana banyak tempat refill air minum gratis. Teorinya terdengar solid dan meyakinkan.

Pas siang bolong di Merlion Park, perut mulai protes. Kita pun memutuskan inilah saatnya popmie beraksi. Masalahnya tinggal satu: air panas. Akhirnya kita masuk ke 7‑Eleven terdekat, dengan harapan bisa numpang air anget. Tapi gak semudah itu Fergusso. Pegawainya bilang boleh, asal minimal beli satu barang dulu.

Diskusi cepat pun terjadi. Dan seperti biasa, sebagai yang tertua, Kak Nopri selalu menjadi korban keadaan. Dia ditugaskan beli minuman paling masuk akal yang ada di rak: Pocari Sweat. Harganya? 4 dolar. Sekitar lima puluh ribuan. Lima puluh ribu. Mantap.

Ada satu momen lucu juga waktu kita di Bugis Street. Pas mau nyebrang, entah kenapa vibes-nya berasa kayak di Shibuya Crossing. Orang dari segala arah nyebrang barengan. Ramai, tapi tetap rapi. Gue sama Kak Nopri udah duluan sampai seberang. Nah, Andika masih di belakang.

Baru setengah jalan, tiba-tiba lampu pejalan kaki berubah merah. Alhasil dia kejebak di tengah jalan. Sendirian. Sumpah pemandangannya kocak banget. Di tengah persimpangan Singapura yang rapi itu, berdiri satu orang Indonesia, tegak lurus, nenteng plastik popmie dari Batam sambil nunggu lampu hijau lagi.

Jalan-Jalan ke Batam..... Cakeppp

0

Dulu gue punya resolusi sederhana: tiap tahun, minimal ke satu tempat baru. Nggak harus jauh-jauh, yang penting pindah koordinat, suasana baru, biar hidup nggak muter di situ-situ aja. Tapi resolusi itu perlahan berubah jadi… wacana.

Sejak 2025, ketika presiden kebanggaan rakyat endonesa, Pak Prabowo mulai gencar menerapkan efisiensi, hidup gue sebagai orang kantor ikut kena imbasnya. Yang dulu kalender penuh sama monev, studi tiru, koordinasi, undangan, bimtek (yang sebenernya jadi jalan-jalan terselubung), sekarang mendadak sunyi. 

Dulu, tiap ada surat perintah, rasanya kayak dapet THR ke-15: kerja iya, jalan juga iya. Sekarang? Yang ada cuma rapat dan zoom meeting. View paling jauh ya… dari meja kerja ke simpang Polda.

Kalo dulu bisa mikir, “abis ini ke kota mana lagi ya?”, sekarang lebih sering mikir, “ini makan siang yang murah apa ya?” Behh… hidup mendadak jadi lebih sederhana (dan pelit).

Tapi secercah harapan akhirnya muncul. Langsung dari surat resmi khas instansi: Pemanggilan peserta pelatihan. Dari BPSDM. Gue buka dengan perasaan antara penasaran dan takut PHP.

Yap, ada nama gue. Dipanggil untuk ikut Pelatihan Teknis Keprotokolan di Batam. Blended learning, lanjut klasikal, bahkan sampai nginep di hotel. Semua difasilitasi. Tiket, penginapan, uang harian. Tanggal 9 s.d. 14 Februari 2026. Diikuti oleh 30 peserta dari Kanwil Aceh, Sumbar, Sumut, Babel, Kepri, Riau, dan Sumsel.

Isi surat pemanggilan

Batam, bro. Tempat yg oleh2 khasnya adalah iphone. Dan lebih kerennya lagi, nyeberang dikit langsung ke SINGAPURA. AAKKKKKKK GUE EXCITED BANGET NGETIK INIIIII.

Tanpa mikir panjang, surat pemanggilan itu langsung gue TL. Bikin pas foto, surat keterangan sehat, sampe surat perintah. Submit. Fix daftar.

Bermodalkan chatgpt, lihatlah pas foto mas-mas ganteng ini.

Dan tentu saja, seperti ASN teladan pada umumnya, yang paling serius dipikirin bukan materi pelatihan, tapi “tempat mana aja yg mau dikunjungi?” wkwkwk

Singkat cerita, kami dari Kanwil Sumsel ada 4 orang yg berangkat. Ada gue, Andika, Syafiq dan Kak Nopri. Kita berangkat barengan, Senin pagi flight jam 6.

Terbang sejam, nyampe di Batam. Kesan pertama? Panassss. Kata mamang driver-nya juga udah 3 bulan di batam ga ujan. Pantes.

Lanjut nyampe hotel. Kita nginep di Golden View Hotel. Nunggu di lobby, ketemu peserta lain, nyapa, check-in kamar.

Di hari pertama itu, sorenya, kita langsung dikasih materi Building Learning Commitment. Intinya, ya perkenalan dan kekompakan. Ada gamesnya juga.

Ada satu game yang menurut gue paling berkesan dan paling berpotensi untuk merusak persahabatan.

Kita disuruh tebak kata dari gerakan berantai. Jadi satu orang pertama nerima kata, terus diperagain tanpa suara, lanjut ke orang berikutnya, sampai orang terakhir. Dan entah kenapa… gue jadi orang terakhir. Iya, tumbal. Korban. Penutup penderitaan kelompok haram jadah ini. 

Orang pertama penerima kata adalah Andika. Katanya adalah: Memetik Kelapa. Sebenernya simpel. Tinggal gaya metik, terus tangan dibentuk bulat, kelar. Tapi tidak dengan Andika. Dia ini bukan sekadar peserta. Dia sutradara.

Dia mulai dari nol: Pose berdiri,  terus meragain jalan. Habis itu manjat pohon. Pelan-pelan. Naik… naik… naik… sampe gue kira dia mau beneran panjat pohon beneran di luar. Baru abis itu dia metik. Totalitas.

Yang jadi masalahnya adalah, di setiap perpindahan orang, gerakannya makin kreatif. Yang tadinya “manjat pohon” berubah jadi kayak dirigen lagu. Dari “metik kelapa” berubah jadi orang mau pidato di podium. Dan gue, sebagai orang terakhir, menerima versi final dari gerakan yang udah nggak jelas ini mau ngapain.

Gue perhatiin serius. Dalam hati gue: “ini orang lagi ngapain sih?” Akhirnya dengan penuh keyakinan gue jawab: “Menyampaikan Sambutan”

Hening.

Dari games itu, gue dapet pesan yg paling penting: Jangan percaya sama Andika.

***

Besoknya, kegiatan resmi dimulai.

Bangun pagi, sarapan, terus masuk kelas. Diawali pembukaan, lanjut materi seputar keprotokolan: tata upacara, tata tempat, tata penghormatan. Intinya, gimana caranya duduk, berdiri, dan mengatur orang biar kelihatan terhormat. Ada juga materi tentang Table Manner. Pokoknya banyak.

Di kelas pun, suasananya ya… seperti diklat pada umumnya. Ada yang serius nyatet, ada yang aktif nanya, ada juga yang kelihatan fokus, padahal lagi mikirin itinerary jalan-jalan. Yang terakhir itu sudah pasti gue.

Ini salah satu pemateri kita, perwakilan dari Setwapres RI. Iya, tim humasnya Gibran 

Selasa malam, kami memutuskan buat survei toko oleh-oleh yang katanya paling terkenal di Batam. Namanya Top 100, lokasinya di Grand Batam Mall. Kita kesana naik gocar.

Di perjalanan, driver mulai basa-basi. Dari mana? Kegiatan apa? Mau ke mana? Kami jawab dengan penuh keyakinan, “Mau ke Top 100, bang.” 

Mendengar itu, abang driver langsung nyeletuk, santai tapi meyakinkan: “Wah, udah tutup itu, bang. Udah lama.” Seketika mobil hening. Kami yang dari luar kota langsung percaya.

Tanpa ragu, dia langsung ngasih solusi. “Kalau mau oleh-oleh, ke Batamiah aja, bang. Lengkap juga.” Dan entah kenapa lagi, kami semua mengangguk. Iya, kami semua. Termasuk Kak Nopri yang pernah 8 bulan tinggal di Batam. Harusnya dia yang jadi sumber kebenaran. Tapi malam itu, dia pun ikut terhipnotis.

Mobil belok. Arah berubah. Nasib pun ikut berubah. Ongkosnya dia minta nambah 10ribu diluar aplikasi. Sampai akhirnya kita nyampe di Batamiah. Toko oleh-oleh, iya. Lumayan juga. Tapi ada perasaan yang ganjel. Kayak… ini bukan rencana awal kita. Yaudah, disana kita belum beli, tapi sekedar foto dan cek harga.

Sepulang dari situ, dari mulut driver lain, barulah kebenaran terungkap. Ternyata Top 100 masih buka. Sehat. Ramai. Bahagia.

Baru ngerti, ternyata kalau driver nganter ke toko oleh-oleh tertentu, ada fee-nya.
Nggak besar sih. Dan yang bikin salut bukan soal fee, tapi caranya. Dia nggak maksa, cuma satu kalimat simpel: “Udah tutup, bang.” Dan kita semua langsung percaya. Pasti abang drivernya anak murid Uya Kuya.

Jadwal kita diklat bisa dibilang padet banget. Mulai jam 8 pagi, kelar jam 5 sore. Setiap hari. Disiplin. Konsisten. Tidak mengenal belas kasihan.

Makanya kalo mau jalan2, opsinya cuma malem. Masalahnya, wisata malam itu nggak semua tempat cocok. Tapi karena semangat eksplorasi lebih besar daripada logika, kita tetap gas.

Salah satu destinasi wajib di Batam: Jembatan Barelang. Ikonik. Landmark. Kalau ke Batam nggak ke sini, rasanya ga lengkap. Di mobil udah kebayang foto-foto dengan background jembatan megah, lampu cantik, angin laut, suasana estetik ala-ala luar negeri.

Sampai sana jam 7 malam. Dan ternyata, zonk. Jembatannya gelap. Lampu nggak nyala. Laut nggak kelihatan. Kita berdiri disana, saling liat-liatan, mencoba mencari sisi positif.

“Yaaa, anginnya enak sih.”

Padahal dalam hati: jauh-jauh cuma liat gelap, mending liat Ampera.

Akhirnya, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan di sana cuma makan gong-gong.

Sahabat gong-gong

Barelang boleh gelap, tapi satu hal yang pasti lebih terang: Singapura. Eaaa. Otewee liat singa ngencing…

The Adventure of Paint Ball

21



Kelanjutan dari yang sudah dilanjuti setelah dilanjutinya tulisan yang dilanjuti dipostingan sebelumnya (ngomong apa ini?), maksudnya, kelanjutan cerita dari postingan gue yang INI, maka gue bakal nerusin kisah gue, tapi bukan tentang di acara resepsinya, tapi mengenai acara lain setelah resepsi pernikahan abang gue.

Iyap, setelah acara selesai, foto-foto selesai, maka gue pun pamit pulang duluan, maklum gue masih punya agenda lain selain nikahan abang gue ini. Agenda yang sebenernya biasa-biasa aja, tapi sangat sarat makna. Pengin tau agendanya apa ? Agendanya yaitu main Paint Ball. Gak tau arti paint ball ? Paint itu cat, ball itu bola. Jadi Paint Ball itu maen ngecat bola.

Malam sebelumnya, gue udah bilang ke orangtua kalo gue bakal pulang duluan di acara resepsi itu. Tapi papa gue kemudian nanya ke gue, “Willy, yang mana acara yang lebih penting, acara nikahan abangmu ato acara main paintball kamu ?”. Mendengar pertanyaan itu, gue mantap menjawab, “lebih penting main paint ball, Pa”. Gak lama setelah gue ngomong begitu, papa gue langsung kekamar, ngambil berkas penting, kemudian nama gue dicoret dari Kartu Keluarga.

Sebenernya juga gue agak galau mau milih acara nikahan abang gue ato mau main paint ball. Disatu sisi, yang nikah itu abang kandung gue sendiri, dan disisi lain rencana main paintball itu udah lama banget, jadi sayang kalo dilewatin.



Sedikit foto spoiler.
 
Akhirnya, setelah sholat istikharah dan nanya temen-temen di pesbuk dengan pertanyaan, “Kawand-khawands, Bc0k aQuWh h4ruSs k3 n1kaH4aN 4b@nG 4qU or 4khU h4Ru5 M4eN P4inTB4ll aj4@ah YacH?”. Beruntung yang komen itu semuanya temen gue, coba kalo yang komen pembimbing skripsi, sudah bisa dipastikan gue bakalan gak lulus di sidang skripsi nanti. Hebat yah gue udah ngomongi skripsi, padahal kan gue baru semester 3. Kayaknya, skripsi emang barang haram jaddah banget yah ? -,-

Nampaknya semesta berkonspirasi saat itu, iya, rencana kita main Paint Ball pun ternyata jam 2 siang. Gue pun akhirnya bisa mengikutin dua agenda penting itu sekaligus: Nikahan abang, abis itu langsung main paintball. 


Ini juga..
 
Karena di pernikahan abang gue ini gue juga mengundang temen yang ikut main paint ball, jadilah kita pun ketempat nikahan abang gue dulu, dan jam satu setelah makan-makan, kita langsung pulang untuk siap-siap tempur. Gak lupa, mereka ternyata ngasih amplop juga. Penting banget dibahas ini -_-

Satu hal yang gue sesali adalah: kenapa temen gue yang dateng itu ngasih amplopnya ke kotak amplop, kenapa nggak ke gue aja langsung ? kan lumayan duitnya. HahahaAstaghfirullah  #WilliyPinterModus #PastiMamanyaBangga

Berhubung cerita nikahan abang udah gue post sebelumnya, maka nggak bakal gue ceritain lagi kronologi pernikahannya. Langsung aja, gue nggak bakal nyeritain tentang kronologi gue ditolak sama kakak tingkat, nggak bakal, itu udah cerita lama. Kali ini gue bakal cerita tentang kronologi gue dan ceman-ceman semua pas main paintball. 


Sory, fotonya lupa di rotate.

ini tim gue: Tim Ular Kresek
Kiri ke kanan: Novrian, Haris, Gue, Akbar, Arifin,
 


Rencana main paintball ini sih sebenernya udah lama banget, dari sekitar 2013 lalu malah. Tapi karena gue dan teman-teman cuma kebanyakan ngomong tanpa diiringi dengan aksi, maka rencana itu pun ikut padam mengikuti perkembangan zaman. Ide main paintball ini pertama kali dicetuskan oleh kakak tutor gue, terus disambung lagi oleh si Jimmy. Jimmy ngasih usul yang sangat cemerlang. Dia bilang begini, “Kak gimana kalo kita main PaintBall-nya.........di Jalur Gaza”. Saran Jimmy emang benar-benar pinter, berkelas, sekaligus.... kurang waras, iya kurang waras.

Oke daripada kebanyakan ngoceh disini, langsung aja bakal gue liatin foto-foto kita maen paintball. Sebelumnya, foto ini juga cuma seadanya, cuma yang ada di hape gue, jadi mohon maaf kalo jelek dan sedikit, maklum orang pinter emang gitu (entah apa hubungannya !?)


Ini tim musuh, nama timnya: Ular Indosiar.
 
Jadi kita yang main paintball itu ada orang 15, karena takutnya yang perang keramean, maka kita pun dibagi jadi 3 kelompok berdasarkan bulan lahir. Bagi yang lahir bulan Januari-April, masuk kelompok 1, yang lahir bulan Mei-Agustus masuk kelompok 2, begitu seterusnya. Berhubung si Elji lahir bulan Syawal, alhasil dia nggak ada kelompok sendiri. Haha :)

Ini si Elji, yang lahirnya bulan Syawal tadi. Haha
 
Struktur mainnya gini, kelompok 1 lawan kelompok 2, yang kalah lawan kelompok 3, terus kelompok 3 nanti lawan kelompok yang menang antara 1 dan 2 tadi. Selain itu, cara mainnya juga simple, kita dikasih 20 peluru, bagi yang kehabisan peluru langsung dianggap gugur dan harus keluar lapangan, jadi harus hemat-hemat peluru.

Bagi yang ketembak juga harus langsung keluar lapangan. Tapi khusus yang ketembak di dada sama bagian belakang aja. Karena kalo terkena tembakan selain didaerah itu, orang tersebut masih dianggap hidup, meskipun pelurunya udah kena kepala pundak lutut dan kaki, orang tersebut belum dianggap mati.



Yang bajunya beda itu musuh, WAJIB DIBUNUH !
 

Tim yang menang yaitu tim yang berhasil ngebunuh semua musuh atau tim yang berhasil ngambil bendera di daerah lawan. Simple kan ? Tapi ya itu, fell tentaranya itu kerasa banget loh. Mulai dari feel saling tembak menembak, saling atur strategi, bahkan fell saling membantu sesama tim terasa banget di permainan ini. Bagaimana cara kita mengatur pertahanan, cara kita nge-kill musuh. Semuanya terasa banget.




Kiri: Akbar. Kanan: Novrian

 

Satu hal yang masih gue inget sampe sekarang: Pelurunya sakit banget, serius. Padahal pakaian kita udah tebel, tapi pelurunya terasa banget. Itulah sebabnya kita dikasih instruksi oleh instrukturnya, apapun yang terjadi, jangan pernah lepas helm, karena kalo dilepas dan pelurunya kena mata, bisa berakibat kebutaan. Ini serius, loh. Gue aja yang kena di paha pas gue cek ternyata biru-biru semua. Pedih, jenderal !!

Dan ini eksklusif dari gue. Ganteng kan ? Hoho
 


1...

2...

Action...
 
Terakhir, ini foto limited edition dari gue:
 


I STAND ON THE LEFT SIDE.
@willy_wili