Setelah diklat ditutup, Sabtu, adalah jadwal kosong. Sebelumnya kita udah sepakat buat extend sehari, jadi hari Sabtu itu bisa dipake buat jalan-jalan full, dan minggu pulang.
Di antara kita berempat, tiga orang ini udah pernah semua ke Singapura. Yang belum? Ya gue. Satu-satunya. Sendirian. Minoritas.
Makanya waktu gue lempar ide, “Gimana kalo sekalian ke Singapura?” Gue tuh setengah yakin, setengah ngga. Takutnya memberatkan. Tapi diluar ekspektasi, mereka malah santai.
“Kalo semua mau, yaudah gasss...” ucapan dari Kak Nopri seolah-olah memperlebar asa gue melihat patung singa pancoran itu.
Semua udah siap. Tiket di tangan, uang di dompet, paspor dipegang erat. Dengan mengucap bismillah, kita naik kapal. Di dalem, ada kali cuma 10 orang penumpang. Sepi banget.
Perjalanan ferry sekitar satu jam setengah. Gue duduk di pinggir jendela supaya bisa liat view. Sesekali cek paspor lagi, masih berasa nggak percaya. “Buset, ini gue beneran ya ke luar negeri…”
Beberapa puluh menit kemudian, gedung-gedung tinggi mulai keliatan. Skyline Singapura muncul pelan-pelan. Rapi. Bersih. Tertata. Kayak feed ig mba Amanda Zahra.
Kapal pun merapat ke HarbourFront, Singapura. Turun dari kapal, ikut arus orang jalan. Kalau tadi masih mode santai, sekarang masuk mode imigrasi: tegang abis. Serius, gue selalu dibilangin kalo imigrasi di Singapura itu kejam, sadis, pokoknya bikin deg-degan.
Antriannya mayan panjang. Semua orang diem. Gue pengen videoin buat footage, tapi kak Nopri dibelakang gue bilang, “Demi masa depan Indonesia, lebih baik jangan, Kisanak.” Oke. Gue nurut.
Giliran gue maju, gue kira paspor bakal dicap kayak di film-film. Gue udah siap buat motoin paspor buat masuk ig story dengan kespen: Singapore (ceklis) Done. Tapi ternyata sekarang udah serba otomatis. Mode autogate. Tinggal tarok paspor di scanner, nunggu sebentar, terus disuruh liat kamera. Cekrek. Selesai. Cepet banget.
Tapi drama ternyata belum selesai. Di sebelah gue, Kak Nopri, gagal. Pas dia scan paspor, tiba-tiba muncul tulisan di layar: “Your SG arrival is…” pokoknya panjang lah. Dia panik. Gue ikut panik. Andika? Nggak. Karena dia udah lolos duluan dan berdiri santai di depan, nunggu kita kayak TKI ilegal yg udah biasa bolak-balik Indonesia-Singapura.
Nggak lama, petugas imigrasi langsung nyamperin Kak Nopri. Ngomong bahasa Inggris campur aksen Cina yang jujur aja susah dipahami. Kak Nopri bengong. Gue juga bengong. Untungnya, ternyata ada petugas imigrasi dari Indonesia yang lagi berjaga disitu. Dia langsung nyamperin dan bantu jelasin.
Ternyata masalahnya sederhana. Kak Nopri belum isi SG Arrival Card (MyICA). Ituloh, form online yang wajib diisi turis sebelum masuk Singapura. Akhirnya Kak Nopri diajak ke ruangan tertentu buat isi datanya dulu.
Usut punya usut, sebenarnya urusan MyICA ini harusnya aman. H-2 sebelum berangkat, Andika udah inisiatif ngurusin. Dia minta kita semua fotoin paspor masing-masing, katanya biar sekalian dia isiin formnya. Kita pun dengan polosnya percaya.
Paspor difoto, dikirim, urusan dianggap selesai. Ternyata, masalahnya disitu. Waktu foto paspor Kak Nopri, Andika salah baca huruf. Di aplikasi dia tulis nomor paspor F9xxxxx. Padahal yang benar… E9xxxxx. Satu huruf doang tapi efeknya terasa di imigrasi negara orang.
Dari situ, gue makin yakin satu hal: emang bener, jangan terlalu percaya sama Andika.
Tebak, itu huruf E apa F?
Drama imigrasi selesai. Rombongan kembali utuh tanpa ada pertumpahan darah. Kita pun resmi menginjak Singapura.
Destinasi pertama: Sentosa Island. Tujuannya: foto di depan Universal Studios Singapore. Masuk? Nggak. Mahal. Intinya, Yang Gratis Gratis Aja.
Jujur, gue jalan2 disini bermodal trust aja sama Andika dan Kak Nopri. Kak Nopri pernah ke sini sekitar 8 bulan lalu. Lumayan masih fresh-lah ingatannya. Sementara Andika juga pernah ke Singapura. Tapi zaman kuliah, puluhan tahun lalu. Iya, Andika satu angkatan sama BJ. Habibie.
Jadi bisa dibilang, pengetahuan kita tentang Singapura itu kombinasi antara memori lama, memori setengah lama, dan modal nekat. Poinnya: memang nggak ada yang benar-benar bisa dipercaya buat jadi guide.
Singkat cerita, destinasi kita hari itu lumayan ambisius: Sentosa Island, Merlion Park, Marina Bay, Bugis Street, Jewel Changi Airport, dan terakhir Gardens by the Bay. Padat? Jelas. Modal liat di tiktok, semua tempat itu wajib didatangi. Meski si Andika dan Kak Nopri tetap misuh2 kejauhan dan kecapekan wkwk
Banyak hal yang bikin gue kagum sama Singapura. Mulai dari transportasinya, semua nyambung. Rapi dan terintegrasi. Bermodal kartu EZ-Link, kita bisa kemana aja naik MRT atau Bus. Buat orang yang datang dari negara yang sering bingung soal transit, ini rasanya praktis banget. Meski peta jalurnya kelihatan rumit, tapi ternyata gampang. Tinggal ikutin warna garis.
Yang susah itu… percaya sama orang yang ngajak. Andika jalan duluan dengan penuh keyakinan. Kita ikut di belakang. Sampai akhirnya dia berhenti, buka HP, dan cek Google Maps. Ternyata dia juga nggak yakin. Kocak.
Belum lagi soal warganya. Yang paling gue notice: mereka tertib. Orang-orang pada nyebrang di tempatnya. Nggak asal potong jalan. Bahkan waktu lampu merah dan jalanan lagi sepi pun, mereka tetap nunggu lampu hijau dulu baru jalan. Hal kecil sih. Tapi buat gue itu cukup bikin kagum. Salutlah pokoknya.
Lalu datanglah momen yang selalu mengingatkan kita bahwa
ini negara mahal: makanan. Kita lihat menu, hitung cepat di kepala: “Ini berapa
rupiah ya?”
Setelah dikali kurs. Kita langsung sepakat: makan
promag aja.
Untungnya soal makan ini juga sempat kita akalin. Bermodalkan mental pedagang cina-nya Andika, dari Batam dia udah nyiapin logistik 6 cup popmie. “Buat bekal di Singapura,” katanya dengan penuh perhitungan. Minum juga katanya aman. Disana banyak tempat refill air minum gratis. Teorinya terdengar solid dan meyakinkan.
Pas siang bolong di Merlion Park, perut mulai protes. Kita pun memutuskan inilah saatnya popmie beraksi. Masalahnya tinggal satu: air panas. Akhirnya kita masuk ke 7‑Eleven terdekat, dengan harapan bisa numpang air anget. Tapi gak semudah itu Fergusso. Pegawainya bilang boleh, asal minimal beli satu barang dulu.
Diskusi cepat pun terjadi. Dan seperti biasa, sebagai yang tertua, Kak Nopri selalu menjadi korban keadaan. Dia ditugaskan beli minuman paling masuk akal yang ada di rak: Pocari Sweat. Harganya? 4 dolar. Sekitar lima puluh ribuan. Lima puluh ribu. Mantap.
Ada satu momen lucu juga waktu kita di Bugis Street. Pas mau nyebrang, entah kenapa vibes-nya berasa kayak di Shibuya Crossing. Orang dari segala arah nyebrang barengan. Ramai, tapi tetap rapi. Gue sama Kak Nopri udah duluan sampai seberang. Nah, Andika masih di belakang.
Baru setengah jalan, tiba-tiba lampu pejalan kaki berubah merah. Alhasil dia kejebak di tengah jalan. Sendirian. Sumpah pemandangannya kocak banget. Di tengah persimpangan Singapura yang rapi itu, berdiri satu orang Indonesia, tegak lurus, nenteng plastik popmie dari Batam sambil nunggu lampu hijau lagi.




0 Comments:
Posting Komentar
Makasih, ya, udah baca sampai sini.
Kalo mau ngirim saran, kripik, donat, silakan.