Bagian 3: Lulus Dahulu, Ditunda Kemudian

0

Berhubung lagi libur lebaran dan energi hidup lagi dihemat mengikuti kebijakan efisiensi pemerintah, akhirnya gue punya waktu buat lanjutin cerita kemarin. Bukan, bukan tentang Singapura, soalnya ceritanya udah kelar. Tapi lanjutin tentang cerita ukom Prakom, disini. 

***

Setelah Ukom selesai, hidup gue otomatis masuk ke mode refresh email tiap 3 menit, kayak nunggu respons atasan yang nggak bales chat kita kalau di depannya nggak diawali kata “izin bapak” lengkap dengan emot tangannya.

Di kantor juga suasananya biasa aja. Temen-temen tetap bekerja seperti ASN teladan pada umumnya. Zikri sambil main Roblox, Ari sambil ngedit vlog, mba Maya sambil ceramah agama, dan gue tentu saja, sambil push rank. Produktif semua, sesuai bidangnya masing-masing.

Belakangan gue baru sadar, ternyata mereka semua sebenernya udah tau kalau gue habis ikut tes, cuma nggak enakan nanya lulus atau enggak. Takut nyakitin hati. RISPEKKKKKK…

Tepat satu bulan lebih sehari kemudian (25 Mei), pengumuman besar itu keluar di grup UKOM versi Kementerian Hukum se-Indonesia. Grup yang biasanya sepi, mendadak hidup kayak kolom komentar ig lambe turah.

Grup yg mendadak rame

Penyebab grup yg mendadak rame

Total peserta UKOM ada 1.467 orang. Yang lulus teknis + mansoskul: 771 orang (52,55%). Yang lulus mansoskul aja tapi gagal teknis: 559 orang (38,10%). Sisanya? Antara lulus atau emng ga diajak remed. Termasuk gue.

“Ini gue lulus? Nggak lulus? Dihapus sistem karena dianggap spam? Nama gue mana woiiiii????”

Gue coba baca ulang. Di titik itu, gue masih belum nemu nama gue di daftar lulus teknis dan mansoskul ataupun yg cuma lulus mansoskul. Posisi gue nanggung: nggak bahagia, tapi belum boleh sedih juga. Ibarat abis boker udah ngerasa lega, eh ternyata masih ada sisa.

Nggak habis fikri, gue pun nyoba ngontak mas-mas BPOM kemarin. Iya, kita sempat tukeran wasap. Jangan tanya siapa yang minta duluan, gue ngga sehomo itu.

Jawaban belio: Insya Allah lulus. Keoptimisan yg wajib diacungi sempol.

Akhirnya gue pasrah, berserah diri, berharap memang lulus. Di fase galau ini, gue nyoba daftar fungsional lain: Perencana. Gila, keren kan namanya? Orang yang hidupnya random ini mau jadi Perencana. Detailnya ntar gue ceritain di postingan lain (((kalo tida mager)))

Remed dijadwalkan 5 Juni. Gue nggak ikut karena remidial hanya untuk orang-orang yg lemah. Anjayy.

Sampai akhirnya tiba juga hari yang mendadak terasa bersejarah: 23 Juni, pukul 21.55. Iya, di waktu tidur orang beriman. Tiba-tiba temen angkatan ngelempar PDF paling sakral sepanjang perjalanan karir gue: pengumuman akhir. Dengan tangan gemeteran sambil keluar ingus dikit, ketemulah nama gue dan satu kalimat pendek: LULUS.

23 Juni siap menjadi hari libur nasional bagi Prakom se-Kemenkum

Gue bangunin istri yg udah tidur duluan, terus bilang, “Ma, udah pengumuman, aku luluss". Dia setengah sadar, matanya masih sipit, mikir sebentar, lalu jawab singkat: “Alhamdulillah, pa… akhirnya mama bisa beli iPhone 17 pro max.”

Hening.

Besoknya gue masuk kantor seperti biasa. Baru masuk ruangan, Zikri langsung jadi orang pertama yang nyamperin. Tanpa basa-basi, dia mengepalkan tangan, terus jabat tangan gue dengan penuh khidmat: “Selamat, kak. Selamat bergabung jadi Prakom.” Kelasss.

Lanjut, gue lapor ke kepegawaian. Mulai nyiapin berkas pengangkatan, PAK, sampai bongkar-bongkar dokumen lama dari zaman CPNS. Semua dikumpulin. Dicek, dirapihin, terus submit. Dikirim ke pusat dengan penuh harap supaya SK pelantikan cepet keluar.

Dari 23 Juni 2025, waktu gue dinyatakan lulus, kabar selanjutnya baru datang lagi dari Biro SDM tanggal 25 Agustus. Isinya? Lumayan mengguncang, setidaknya buat dunia Ridwan Kamil. 

“Pengangkatan JFT belum bisa dilakukan karena masih dalam masa penangguhan. Menunggu persetujuan penetapan kebutuhan dari KemenPAN-RB. Hal ini dikarenakan Kemenkumham pecah menjadi 3 kementerian, sehingga seluruh formasi harus diusulkan ulang.” 

Intinya: “Maaf ya, kamu nggak bisa dilantik dulu, soalnya formasi Prakom belum ada. Karena kementerian pecah dari Kemenkumham jadi Kemenkum, Kemenham dan Kemenimipas. Jadi semua formasi harus diusulkan ulang."

Yaa, begitulah perjalanan menjemput takdir sebagai Prakom. Panjang, berliku, dan penuh adegan “kok hidup gue gini banget.”

Semesta emang suka bercanda.

*sujud syukur* *sambil kayang*


Singapura: Modal Nekat, Popmie, dan Guide Abal-Abal

0

Setelah diklat ditutup, Sabtu, adalah jadwal kosong. Sebelumnya kita udah sepakat buat extend sehari, jadi hari Sabtu itu bisa dipake buat jalan-jalan full, dan minggu pulang.

Di antara kita berempat, tiga orang ini udah pernah semua ke Singapura. Yang belum? Ya gue. Satu-satunya. Sendirian. Minoritas.

Makanya waktu gue lempar ide, “Gimana kalo sekalian ke Singapura?” Gue tuh setengah yakin, setengah ngga. Takutnya memberatkan. Tapi diluar ekspektasi, mereka malah santai. 

“Kalo semua mau, yaudah gasss...” ucapan dari Kak Nopri seolah-olah memperlebar asa gue melihat patung singa pancoran itu.

Yg ngajak gue, tapi yg antusias Andika. Lihatlah, dia sudah menyusun itinerary-nya dari jauh-jauh hari. Bahkan doi rela ngechat admin open trip supaya dapet bocoran one day trip. Dika emang keren, cocok jadi panitia. Panitia Kurban.

Sabtu pagi, kita berangkat ke pelabuhan Batam Center. Sampe disana langsung beli tiket penyeberangan di Sindo Ferry bolak-balik, harganya 730k. Abis itu langsung ke money changer. Kita nuker duit masing-masing 500k doang, dapet sekitar 37 dolar singapur.

Semua udah siap. Tiket di tangan, uang di dompet, paspor dipegang erat. Dengan mengucap bismillah, kita naik kapal. Di dalem, ada kali cuma 10 orang penumpang. Sepi banget.

Perjalanan ferry sekitar satu jam setengah. Gue duduk di pinggir jendela supaya bisa liat view. Sesekali cek paspor lagi, masih berasa nggak percaya. “Buset, ini gue beneran ya ke luar negeri…”

Beberapa puluh menit kemudian, gedung-gedung tinggi mulai keliatan. Skyline Singapura muncul pelan-pelan. Rapi. Bersih. Tertata. Kayak feed ig mba Amanda Zahra.

Kapal pun merapat ke HarbourFront, Singapura. Turun dari kapal, ikut arus orang jalan. Kalau tadi masih mode santai, sekarang masuk mode imigrasi: tegang abis. Serius, gue selalu dibilangin kalo imigrasi di Singapura itu kejam, sadis, pokoknya bikin deg-degan.

Antriannya mayan panjang. Semua orang diem. Gue pengen videoin buat footage, tapi kak Nopri dibelakang gue bilang, “Demi masa depan Indonesia, lebih baik jangan, Kisanak.” Oke. Gue nurut.

Giliran gue maju, gue kira paspor bakal dicap kayak di film-film. Gue udah siap buat motoin paspor buat masuk ig story dengan kepsen: Singapore (ceklis) Done. Tapi ternyata sekarang udah serba otomatis. Mode autogate. Tinggal tarok paspor di scanner, nunggu sebentar, terus disuruh liat kamera. Cekrek. Selesai. Cepet banget. Harapan buat posting foto paspor cap singapur pun hilang.

Tapi drama ternyata belum selesai. Di sebelah gue, Kak Nopri, gagal. Pas dia scan paspor, tiba-tiba muncul tulisan di layar: “Your SG arrival is…” pokoknya panjang lah. Dia panik. Gue ikut panik. Andika? Nggak. Karena dia udah lolos duluan dan berdiri santai di depan, nunggu kita kayak TKI ilegal yg udah biasa bolak-balik Indonesia-Singapura.

Nggak lama, petugas imigrasi langsung nyamperin Kak Nopri. Ngomong bahasa Inggris campur aksen Cina yang jujur aja susah dipahami. Kak Nopri bengong. Gue juga bengong. Untungnya, ternyata ada petugas imigrasi dari Indonesia yang lagi berjaga disitu. Dia langsung nyamperin dan bantu jelasin.

Ternyata masalahnya simpel. Kak Nopri belum isi SG Arrival Card (MyICA). Ituloh, form online yang wajib diisi turis sebelum masuk Singapura. Akhirnya Kak Nopri diajak ke ruangan tertentu buat isi datanya dulu.  

Usut punya usut, sebenarnya urusan MyICA ini harusnya aman. H-2 sebelum berangkat, Andika udah inisiatif ngurusin. Dia minta kita semua fotoin paspor masing-masing, katanya biar sekalian dia isiin formnya. Kita pun dengan polosnya percaya.

Paspor difoto, dikirim, urusan dianggap selesai. Ternyata, masalahnya disitu. Waktu foto paspor Kak Nopri, Andika salah baca huruf. Di aplikasi dia tulis nomor paspor F9xxxxx. Padahal yang benar… E9xxxxx. Satu huruf doang tapi efeknya terasa di imigrasi negara orang.

Dari situ, gue makin yakin satu hal: emang bener, jangan terlalu percaya sama Andika. 

Tebak, itu huruf E apa F?

Drama imigrasi selesai. Rombongan kembali utuh tanpa ada pertumpahan darah. Kita pun resmi menginjak Singapura.

Destinasi pertama: Sentosa Island. Tujuannya: foto di depan Universal Studios Singapore. Masuk? Nggak. Mahal. Intinya, Yang Gratis Gratis Aja.

Jujur, gue jalan2 disini bermodal trust aja sama Andika dan Kak Nopri. Kak Nopri pernah ke sini sekitar 8 bulan lalu. Lumayan masih fresh-lah ingatannya. Sementara Andika juga pernah ke Singapura. Tapi zaman kuliah, puluhan tahun lalu. Iya, Andika satu angkatan sama BJ. Habibie.

Jadi bisa dibilang, pengetahuan kita tentang Singapura itu kombinasi antara memori lama, memori setengah lama, dan modal nekat. Poinnya: memang nggak ada yang benar-benar bisa dipercaya buat jadi guide.

Singkat cerita, destinasi kita hari itu lumayan ambisius: Sentosa Island, Merlion Park, Marina Bay, Bugis Street, Jewel Changi Airport, dan terakhir Gardens by the Bay. Padat? Jelas. Modal liat di tiktok, semua tempat itu wajib didatangi. Meski si Andika dan Kak Nopri tetap misuh2 kejauhan dan kecapekan wkwk

Banyak hal yang bikin gue kagum sama Singapura. Mulai dari transportasinya, semua nyambung. Rapi dan terintegrasi. Bermodal kartu EZ-Link, kita bisa kemana aja naik MRT atau Bus. Buat orang yang datang dari negara yang sering bingung soal transit, ini rasanya praktis banget. Meski peta jalurnya kelihatan rumit, tapi ternyata gampang. Tinggal ikutin warna garis.

Yang susah itu… percaya sama orang yang ngajak. Andika jalan duluan dengan penuh keyakinan. Kita ikut di belakang. Sampai akhirnya dia berhenti, buka HP, dan cek Google Maps. Ternyata dia juga nggak yakin. Kocak.

Belum lagi soal warganya. Yang paling gue notice: mereka tertib. Orang-orang pada nyebrang di tempatnya. Nggak asal potong jalan. Bahkan waktu lampu merah dan jalanan lagi sepi pun, mereka tetap nunggu lampu hijau dulu baru jalan. Hal kecil sih. Tapi buat gue itu cukup bikin kagum. Salutlah pokoknya.

Lihatlah mas-mas tampan anak satu ini

Lalu datanglah momen yang selalu mengingatkan kita bahwa ini negara mahal: makanan. Kita lihat menu, hitung cepat di kepala: “Ini berapa rupiah ya?” 
Setelah dikali kurs. Kita langsung sepakat: makan promag aja.

Untungnya soal makan ini juga sempat kita akalin. Bermodalkan mental pedagang cina-nya Andika, dari Batam dia udah nyiapin logistik 6 cup popmie. “Buat bekal di Singapura,” katanya dengan penuh perhitungan. Minum juga katanya aman. Disana banyak tempat refill air minum gratis. Teorinya terdengar solid dan meyakinkan.

Pas siang bolong di Merlion Park, perut mulai protes. Kita pun memutuskan inilah saatnya popmie beraksi. Masalahnya tinggal satu: air panas. Akhirnya kita masuk ke 7‑Eleven terdekat, dengan harapan bisa numpang air anget. Tapi gak semudah itu Fergusso. Pegawainya bilang boleh, asal minimal beli satu barang dulu.

Diskusi cepat pun terjadi. Dan seperti biasa, sebagai yang tertua, Kak Nopri selalu menjadi korban keadaan. Dia ditugaskan beli minuman paling masuk akal yang ada di rak: Pocari Sweat. Harganya? 4 dolar. Sekitar lima puluh ribuan. Lima puluh ribu. Mantap.

Ada satu momen lucu juga waktu kita di Bugis Street. Pas mau nyebrang, entah kenapa vibes-nya berasa kayak di Shibuya Crossing. Orang dari segala arah nyebrang barengan. Ramai, tapi tetap rapi. Gue sama Kak Nopri udah duluan sampai seberang. Nah, Andika masih di belakang.

Baru setengah jalan, tiba-tiba lampu pejalan kaki berubah merah. Alhasil dia kejebak di tengah jalan. Sendirian. Sumpah pemandangannya kocak banget. Di tengah persimpangan Singapura yang rapi itu, berdiri satu orang Indonesia, tegak lurus, nenteng plastik popmie dari Batam sambil nunggu lampu hijau lagi.