Dulu gue punya resolusi sederhana: tiap tahun, minimal ke satu tempat baru. Nggak harus jauh-jauh, yang penting pindah koordinat, suasana baru, biar hidup nggak muter di situ-situ aja. Tapi resolusi itu perlahan berubah jadi… wacana.
Sejak 2025, ketika presiden kebanggaan rakyat endonesa, Pak Prabowo mulai gencar menerapkan efisiensi, hidup gue sebagai orang kantor ikut kena imbasnya. Yang dulu kalender penuh sama monev, studi tiru, koordinasi, undangan, bimtek (yang sebenernya jadi jalan-jalan terselubung), sekarang mendadak sunyi.
Dulu, tiap ada surat perintah, rasanya kayak dapet THR ke-15: kerja iya, jalan juga iya. Sekarang? Yang ada cuma rapat dan zoom meeting. View paling jauh ya… dari meja kerja ke simpang Polda.
Kalo dulu bisa mikir, “abis ini ke kota mana lagi ya?”, sekarang lebih sering mikir, “ini makan siang yang murah apa ya?” Behh… hidup mendadak jadi lebih sederhana (dan pelit).
Tapi secercah harapan akhirnya muncul. Langsung dari surat resmi khas instansi: Pemanggilan peserta pelatihan. Dari BPSDM. Gue buka dengan perasaan antara penasaran dan takut PHP.
Yap, ada nama gue. Dipanggil untuk ikut Pelatihan Teknis Keprotokolan di Batam. Blended learning, lanjut klasikal, bahkan sampai nginep di hotel. Semua difasilitasi. Tiket, penginapan, uang harian. Tanggal 9 s.d. 14 Februari 2026. Diikuti oleh 30 peserta dari Kanwil Aceh, Sumbar, Sumut, Babel, Kepri, Riau, dan Sumsel.
Batam, bro. Tempat yg oleh2 khasnya adalah iphone. Dan lebih kerennya lagi, nyeberang dikit langsung ke SINGAPURA. AAKKKKKKK GUE EXCITED BANGET NGETIK INIIIII.
Tanpa mikir panjang, surat pemanggilan itu langsung gue TL. Bikin pas foto, surat keterangan sehat, sampe surat perintah. Submit. Fix daftar.
Dan tentu saja, seperti ASN teladan pada umumnya, yang paling serius dipikirin bukan materi pelatihan, tapi “tempat mana aja yg mau dikunjungi?” wkwkwk
Singkat cerita, kami dari Kanwil Sumsel ada 4 orang yg berangkat. Ada gue, Andika, Syafiq dan Kak Nopri. Kita berangkat barengan, Senin pagi flight jam 6.
Terbang sejam, nyampe di Batam. Kesan pertama? Panassss. Kata mamang driver-nya juga udah 3 bulan di batam ga ujan. Pantes.
Lanjut nyampe hotel. Kita nginep di Golden View Hotel. Nunggu di lobby, ketemu peserta lain, nyapa, check-in kamar.
Di hari pertama itu, sorenya, kita langsung dikasih materi Building Learning Commitment. Intinya, ya perkenalan dan kekompakan. Ada gamesnya juga.
Ada satu game yang menurut gue paling berkesan dan paling berpotensi untuk merusak persahabatan.
Kita disuruh tebak kata dari gerakan berantai. Jadi satu orang pertama nerima kata, terus diperagain tanpa suara, lanjut ke orang berikutnya, sampai orang terakhir. Dan entah kenapa… gue jadi orang terakhir. Iya, tumbal. Korban. Penutup penderitaan kelompok haram jadah ini.
Orang pertama penerima kata adalah Andika. Katanya adalah: Memetik Kelapa. Sebenernya simpel. Tinggal gaya metik, terus tangan dibentuk bulat, kelar. Tapi tidak dengan Andika. Dia ini bukan sekadar peserta. Dia sutradara.
Dia mulai dari nol: Pose berdiri, terus meragain jalan. Habis itu manjat pohon. Pelan-pelan. Naik… naik… naik… sampe gue kira dia mau beneran panjat pohon beneran di luar. Baru abis itu dia metik. Totalitas.
Yang jadi masalahnya adalah, di setiap perpindahan orang, gerakannya makin kreatif. Yang tadinya “manjat pohon” berubah jadi kayak dirigen lagu. Dari “metik kelapa” berubah jadi orang mau pidato di podium. Dan gue, sebagai orang terakhir, menerima versi final dari gerakan yang udah nggak jelas ini mau ngapain.
Gue perhatiin serius. Dalam hati gue: “ini orang lagi ngapain sih?” Akhirnya dengan penuh keyakinan gue jawab: “Menyampaikan Sambutan”
Hening.
Dari games itu, gue dapet pesan yg paling penting: Jangan percaya sama Andika.
***
Besoknya, kegiatan resmi dimulai.
Bangun pagi, sarapan, terus masuk kelas. Diawali pembukaan, lanjut materi seputar keprotokolan: tata upacara, tata tempat, tata penghormatan. Intinya, gimana caranya duduk, berdiri, dan mengatur orang biar kelihatan terhormat. Ada juga materi tentang Table Manner. Pokoknya banyak.
Di kelas pun, suasananya ya… seperti diklat pada umumnya. Ada yang serius nyatet, ada yang aktif nanya, ada juga yang kelihatan fokus, padahal lagi mikirin itinerary jalan-jalan. Yang terakhir itu sudah pasti gue.
Selasa malam, kami memutuskan buat survei toko oleh-oleh
yang katanya paling terkenal di Batam. Namanya Top 100, lokasinya di Grand
Batam Mall. Kita kesana naik gocar.
Di perjalanan, seperti biasa, driver mulai basa-basi. Dari mana? Kegiatan apa? Mau ke mana? Kami jawab dengan penuh keyakinan, “Mau ke Top 100, bang.”
Mendengar itu, abang driver langsung nyeletuk, santai tapi meyakinkan: “Wah, udah tutup itu, bang. Udah lama.” Seketika mobil hening. Kami yang dari luar kota langsung percaya.
Tanpa ragu, dia langsung ngasih solusi. “Kalau mau oleh-oleh, ke Batamiah aja, bang. Lengkap juga.” Dan entah kenapa lagi, kami semua mengangguk. Iya, kami semua. Termasuk Kak Nopri yang pernah 8 bulan tinggal di Batam. Harusnya dia yang jadi sumber kebenaran. Tapi malam itu, dia pun ikut terhipnotis.
Mobil belok. Arah berubah. Nasib pun ikut berubah. Ongkosnya dia minta nambah 10ribu diluar aplikasi. Sampai akhirnya kita nyampe di Batamiah. Toko oleh-oleh, iya. Lumayan juga. Tapi ada perasaan yang ganjel. Kayak… ini bukan rencana awal kita. Yaudah, disana kita belum beli, tapi sekedar foto dan cek harga.
Sepulang dari situ, dari mulut driver lain, barulah kebenaran terungkap. Ternyata Top 100 masih buka. Sehat. Ramai. Bahagia.
Jadwal kita diklat bisa dibilang padet banget. Mulai jam 8 pagi, kelar jam 5 sore. Setiap hari. Disiplin. Konsisten. Tidak mengenal belas kasihan.
Makanya kalo mau jalan2, opsinya cuma malem. Masalahnya, wisata malam itu nggak semua tempat cocok. Tapi karena semangat eksplorasi lebih besar daripada logika, kita tetap gas.
Salah satu destinasi wajib di Batam: Jembatan Barelang. Ikonik. Landmark. Kalau ke Batam nggak ke sini, rasanya ga lengkap. Di mobil udah kebayang foto-foto dengan background jembatan megah, lampu cantik, angin laut, suasana estetik ala-ala luar negeri.
Sampai sana jam 7 malam. Dan ternyata, zonk. Jembatannya
gelap. Lampu nggak nyala. Laut nggak kelihatan. Kita berdiri disana, saling
liat-liatan, mencoba mencari sisi positif.
“Yaaa, anginnya enak sih.”
Padahal dalam hati: jauh-jauh cuma liat gelap, mending liat Ampera.
Akhirnya, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan di sana cuma makan gong-gong.
Sahabat gong-gong






















