Singapura: Modal Nekat, Popmie, dan Guide Abal-Abal

0

Setelah diklat ditutup, Sabtu, adalah jadwal kosong. Sebelumnya kita udah sepakat buat extend sehari, jadi hari Sabtu itu bisa dipake buat jalan-jalan full, dan minggu pulang.

Di antara kita berempat, tiga orang ini udah pernah semua ke Singapura. Yang belum? Ya gue. Satu-satunya. Sendirian. Minoritas.

Makanya waktu gue lempar ide, “Gimana kalo sekalian ke Singapura?” Gue tuh setengah yakin, setengah ngga. Takutnya memberatkan. Tapi diluar ekspektasi, mereka malah santai. 

“Kalo semua mau, yaudah gasss...” ucapan dari Kak Nopri seolah-olah memperlebar asa gue melihat patung singa pancoran itu.

Yg ngajak gue, tapi yg antusias Andika. Lihatlah, dia sudah menyusun itinerary-nya dari jauh-jauh hari. Bahkan doi rela ngechat admin open trip supaya dapet bocoran one day trip. Dika emang keren, cocok jadi panitia. Panitia Kurban.

Sabtu pagi, kita berangkat ke pelabuhan Batam Center. Sampe disana langsung beli tiket di penyeberangan Sindo Ferry bolak-balik, harganya 730k. Abis itu langsung ke money changer. Kita nuker duit masing-masing 500k doang, dapet sekitar 37 dolar singapur.

Semua udah siap. Tiket di tangan, uang di dompet, paspor dipegang erat. Dengan mengucap bismillah, kita naik kapal. Di dalem, ada kali cuma 10 orang penumpang. Sepi banget.

Perjalanan ferry sekitar satu jam setengah. Gue duduk di pinggir jendela supaya bisa liat view. Sesekali cek paspor lagi, masih berasa nggak percaya. “Buset, ini gue beneran ya ke luar negeri…”

Beberapa puluh menit kemudian, gedung-gedung tinggi mulai keliatan. Skyline Singapura muncul pelan-pelan. Rapi. Bersih. Tertata. Kayak feed ig mba Amanda Zahra.

Kapal pun merapat ke HarbourFront, Singapura. Turun dari kapal, ikut arus orang jalan. Kalau tadi masih mode santai, sekarang masuk mode imigrasi: tegang abis. Serius, gue selalu dibilangin kalo imigrasi di Singapura itu kejam, sadis, pokoknya bikin deg-degan.

Antriannya mayan panjang. Semua orang diem. Gue pengen videoin buat footage, tapi kak Nopri dibelakang gue bilang, “Demi masa depan Indonesia, lebih baik jangan, Kisanak.” Oke. Gue nurut.

Giliran gue maju, gue kira paspor bakal dicap kayak di film-film. Gue udah siap buat motoin paspor buat masuk ig story dengan kespen: Singapore (ceklis) Done. Tapi ternyata sekarang udah serba otomatis. Mode autogate. Tinggal tarok paspor di scanner, nunggu sebentar, terus disuruh liat kamera. Cekrek. Selesai. Cepet banget.

Tapi drama ternyata belum selesai. Di sebelah gue, Kak Nopri, gagal. Pas dia scan paspor, tiba-tiba muncul tulisan di layar: “Your SG arrival is…” pokoknya panjang lah. Dia panik. Gue ikut panik. Andika? Nggak. Karena dia udah lolos duluan dan berdiri santai di depan, nunggu kita kayak TKI ilegal yg udah biasa bolak-balik Indonesia-Singapura.

Nggak lama, petugas imigrasi langsung nyamperin Kak Nopri. Ngomong bahasa Inggris campur aksen Cina yang jujur aja susah dipahami. Kak Nopri bengong. Gue juga bengong. Untungnya, ternyata ada petugas imigrasi dari Indonesia yang lagi berjaga disitu. Dia langsung nyamperin dan bantu jelasin.

Ternyata masalahnya sederhana. Kak Nopri belum isi SG Arrival Card (MyICA). Ituloh, form online yang wajib diisi turis sebelum masuk Singapura. Akhirnya Kak Nopri diajak ke ruangan tertentu buat isi datanya dulu.  

Usut punya usut, sebenarnya urusan MyICA ini harusnya aman. H-2 sebelum berangkat, Andika udah inisiatif ngurusin. Dia minta kita semua fotoin paspor masing-masing, katanya biar sekalian dia isiin formnya. Kita pun dengan polosnya percaya.

Paspor difoto, dikirim, urusan dianggap selesai. Ternyata, masalahnya disitu. Waktu foto paspor Kak Nopri, Andika salah baca huruf. Di aplikasi dia tulis nomor paspor F9xxxxx. Padahal yang benar… E9xxxxx. Satu huruf doang tapi efeknya terasa di imigrasi negara orang.

Dari situ, gue makin yakin satu hal: emang bener, jangan terlalu percaya sama Andika. 

Tebak, itu huruf E apa F?

Drama imigrasi selesai. Rombongan kembali utuh tanpa ada pertumpahan darah. Kita pun resmi menginjak Singapura.

Destinasi pertama: Sentosa Island. Tujuannya: foto di depan Universal Studios Singapore. Masuk? Nggak. Mahal. Intinya, Yang Gratis Gratis Aja.

Jujur, gue jalan2 disini bermodal trust aja sama Andika dan Kak Nopri. Kak Nopri pernah ke sini sekitar 8 bulan lalu. Lumayan masih fresh-lah ingatannya. Sementara Andika juga pernah ke Singapura. Tapi zaman kuliah, puluhan tahun lalu. Iya, Andika satu angkatan sama BJ. Habibie.

Jadi bisa dibilang, pengetahuan kita tentang Singapura itu kombinasi antara memori lama, memori setengah lama, dan modal nekat. Poinnya: memang nggak ada yang benar-benar bisa dipercaya buat jadi guide.

Singkat cerita, destinasi kita hari itu lumayan ambisius: Sentosa Island, Merlion Park, Marina Bay, Bugis Street, Jewel Changi Airport, dan terakhir Gardens by the Bay. Padat? Jelas. Modal liat di tiktok, semua tempat itu wajib didatangi. Meski si Andika dan Kak Nopri tetap misuh2 kejauhan dan kecapekan wkwk

Banyak hal yang bikin gue kagum sama Singapura. Mulai dari transportasinya, semua nyambung. Rapi dan terintegrasi. Bermodal kartu EZ-Link, kita bisa kemana aja naik MRT atau Bus. Buat orang yang datang dari negara yang sering bingung soal transit, ini rasanya praktis banget. Meski peta jalurnya kelihatan rumit, tapi ternyata gampang. Tinggal ikutin warna garis.

Yang susah itu… percaya sama orang yang ngajak. Andika jalan duluan dengan penuh keyakinan. Kita ikut di belakang. Sampai akhirnya dia berhenti, buka HP, dan cek Google Maps. Ternyata dia juga nggak yakin. Kocak.

Belum lagi soal warganya. Yang paling gue notice: mereka tertib. Orang-orang pada nyebrang di tempatnya. Nggak asal potong jalan. Bahkan waktu lampu merah dan jalanan lagi sepi pun, mereka tetap nunggu lampu hijau dulu baru jalan. Hal kecil sih. Tapi buat gue itu cukup bikin kagum. Salutlah pokoknya.

Lihatlah mas-mas tampan anak satu ini

Lalu datanglah momen yang selalu mengingatkan kita bahwa ini negara mahal: makanan. Kita lihat menu, hitung cepat di kepala: “Ini berapa rupiah ya?” 
Setelah dikali kurs. Kita langsung sepakat: makan promag aja.

Untungnya soal makan ini juga sempat kita akalin. Bermodalkan mental pedagang cina-nya Andika, dari Batam dia udah nyiapin logistik 6 cup popmie. “Buat bekal di Singapura,” katanya dengan penuh perhitungan. Minum juga katanya aman. Disana banyak tempat refill air minum gratis. Teorinya terdengar solid dan meyakinkan.

Pas siang bolong di Merlion Park, perut mulai protes. Kita pun memutuskan inilah saatnya popmie beraksi. Masalahnya tinggal satu: air panas. Akhirnya kita masuk ke 7‑Eleven terdekat, dengan harapan bisa numpang air anget. Tapi gak semudah itu Fergusso. Pegawainya bilang boleh, asal minimal beli satu barang dulu.

Diskusi cepat pun terjadi. Dan seperti biasa, sebagai yang tertua, Kak Nopri selalu menjadi korban keadaan. Dia ditugaskan beli minuman paling masuk akal yang ada di rak: Pocari Sweat. Harganya? 4 dolar. Sekitar lima puluh ribuan. Lima puluh ribu. Mantap.

Ada satu momen lucu juga waktu kita di Bugis Street. Pas mau nyebrang, entah kenapa vibes-nya berasa kayak di Shibuya Crossing. Orang dari segala arah nyebrang barengan. Ramai, tapi tetap rapi. Gue sama Kak Nopri udah duluan sampai seberang. Nah, Andika masih di belakang.

Baru setengah jalan, tiba-tiba lampu pejalan kaki berubah merah. Alhasil dia kejebak di tengah jalan. Sendirian. Sumpah pemandangannya kocak banget. Di tengah persimpangan Singapura yang rapi itu, berdiri satu orang Indonesia, tegak lurus, nenteng plastik popmie dari Batam sambil nunggu lampu hijau lagi.

Jalan-Jalan ke Batam..... Cakeppp

0

Dulu gue punya resolusi sederhana: tiap tahun, minimal ke satu tempat baru. Nggak harus jauh-jauh, yang penting pindah koordinat, suasana baru, biar hidup nggak muter di situ-situ aja. Tapi resolusi itu perlahan berubah jadi… wacana.

Sejak 2025, ketika presiden kebanggaan rakyat endonesa, Pak Prabowo mulai gencar menerapkan efisiensi, hidup gue sebagai orang kantor ikut kena imbasnya. Yang dulu kalender penuh sama monev, studi tiru, koordinasi, undangan, bimtek (yang sebenernya jadi jalan-jalan terselubung), sekarang mendadak sunyi. 

Dulu, tiap ada surat perintah, rasanya kayak dapet THR ke-15: kerja iya, jalan juga iya. Sekarang? Yang ada cuma rapat dan zoom meeting. View paling jauh ya… dari meja kerja ke simpang Polda.

Kalo dulu bisa mikir, “abis ini ke kota mana lagi ya?”, sekarang lebih sering mikir, “ini makan siang yang murah apa ya?” Behh… hidup mendadak jadi lebih sederhana (dan pelit).

Tapi secercah harapan akhirnya muncul. Langsung dari surat resmi khas instansi: Pemanggilan peserta pelatihan. Dari BPSDM. Gue buka dengan perasaan antara penasaran dan takut PHP.

Yap, ada nama gue. Dipanggil untuk ikut Pelatihan Teknis Keprotokolan di Batam. Blended learning, lanjut klasikal, bahkan sampai nginep di hotel. Semua difasilitasi. Tiket, penginapan, uang harian. Tanggal 9 s.d. 14 Februari 2026. Diikuti oleh 30 peserta dari Kanwil Aceh, Sumbar, Sumut, Babel, Kepri, Riau, dan Sumsel.

Isi surat pemanggilan

Batam, bro. Tempat yg oleh2 khasnya adalah iphone. Dan lebih kerennya lagi, nyeberang dikit langsung ke SINGAPURA. AAKKKKKKK GUE EXCITED BANGET NGETIK INIIIII.

Tanpa mikir panjang, surat pemanggilan itu langsung gue TL. Bikin pas foto, surat keterangan sehat, sampe surat perintah. Submit. Fix daftar.

Bermodalkan chatgpt, lihatlah pas foto mas-mas ganteng ini.

Dan tentu saja, seperti ASN teladan pada umumnya, yang paling serius dipikirin bukan materi pelatihan, tapi “tempat mana aja yg mau dikunjungi?” wkwkwk

Singkat cerita, kami dari Kanwil Sumsel ada 4 orang yg berangkat. Ada gue, Andika, Syafiq dan Kak Nopri. Kita berangkat barengan, Senin pagi flight jam 6.

Terbang sejam, nyampe di Batam. Kesan pertama? Panassss. Kata mamang driver-nya juga udah 3 bulan di batam ga ujan. Pantes.

Lanjut nyampe hotel. Kita nginep di Golden View Hotel. Nunggu di lobby, ketemu peserta lain, nyapa, check-in kamar.

Di hari pertama itu, sorenya, kita langsung dikasih materi Building Learning Commitment. Intinya, ya perkenalan dan kekompakan. Ada gamesnya juga.

Ada satu game yang menurut gue paling berkesan dan paling berpotensi untuk merusak persahabatan.

Kita disuruh tebak kata dari gerakan berantai. Jadi satu orang pertama nerima kata, terus diperagain tanpa suara, lanjut ke orang berikutnya, sampai orang terakhir. Dan entah kenapa… gue jadi orang terakhir. Iya, tumbal. Korban. Penutup penderitaan kelompok haram jadah ini. 

Orang pertama penerima kata adalah Andika. Katanya adalah: Memetik Kelapa. Sebenernya simpel. Tinggal gaya metik, terus tangan dibentuk bulat, kelar. Tapi tidak dengan Andika. Dia ini bukan sekadar peserta. Dia sutradara.

Dia mulai dari nol: Pose berdiri,  terus meragain jalan. Habis itu manjat pohon. Pelan-pelan. Naik… naik… naik… sampe gue kira dia mau beneran panjat pohon beneran di luar. Baru abis itu dia metik. Totalitas.

Yang jadi masalahnya adalah, di setiap perpindahan orang, gerakannya makin kreatif. Yang tadinya “manjat pohon” berubah jadi kayak dirigen lagu. Dari “metik kelapa” berubah jadi orang mau pidato di podium. Dan gue, sebagai orang terakhir, menerima versi final dari gerakan yang udah nggak jelas ini mau ngapain.

Gue perhatiin serius. Dalam hati gue: “ini orang lagi ngapain sih?” Akhirnya dengan penuh keyakinan gue jawab: “Menyampaikan Sambutan”

Hening.

Dari games itu, gue dapet pesan yg paling penting: Jangan percaya sama Andika.

***

Besoknya, kegiatan resmi dimulai.

Bangun pagi, sarapan, terus masuk kelas. Diawali pembukaan, lanjut materi seputar keprotokolan: tata upacara, tata tempat, tata penghormatan. Intinya, gimana caranya duduk, berdiri, dan mengatur orang biar kelihatan terhormat. Ada juga materi tentang Table Manner. Pokoknya banyak.

Di kelas pun, suasananya ya… seperti diklat pada umumnya. Ada yang serius nyatet, ada yang aktif nanya, ada juga yang kelihatan fokus, padahal lagi mikirin itinerary jalan-jalan. Yang terakhir itu sudah pasti gue.

Ini salah satu pemateri kita, perwakilan dari Setwapres RI. Iya, tim humasnya Gibran 

Selasa malam, kami memutuskan buat survei toko oleh-oleh yang katanya paling terkenal di Batam. Namanya Top 100, lokasinya di Grand Batam Mall. Kita kesana naik gocar.

Di perjalanan, seperti biasa, driver mulai basa-basi. Dari mana? Kegiatan apa? Mau ke mana? Kami jawab dengan penuh keyakinan, “Mau ke Top 100, bang.” 

Mendengar itu, abang driver langsung nyeletuk, santai tapi meyakinkan: “Wah, udah tutup itu, bang. Udah lama.” Seketika mobil hening. Kami yang dari luar kota langsung percaya.

Tanpa ragu, dia langsung ngasih solusi. “Kalau mau oleh-oleh, ke Batamiah aja, bang. Lengkap juga.” Dan entah kenapa lagi, kami semua mengangguk. Iya, kami semua. Termasuk Kak Nopri yang pernah 8 bulan tinggal di Batam. Harusnya dia yang jadi sumber kebenaran. Tapi malam itu, dia pun ikut terhipnotis.

Mobil belok. Arah berubah. Nasib pun ikut berubah. Ongkosnya dia minta nambah 10ribu diluar aplikasi. Sampai akhirnya kita nyampe di Batamiah. Toko oleh-oleh, iya. Lumayan juga. Tapi ada perasaan yang ganjel. Kayak… ini bukan rencana awal kita. Yaudah, disana kita belum beli, tapi sekedar foto dan cek harga.

Sepulang dari situ, dari mulut driver lain, barulah kebenaran terungkap. Ternyata Top 100 masih buka. Sehat. Ramai. Bahagia.

Baru ngerti, ternyata kalau driver nganter ke toko oleh-oleh tertentu, ada fee-nya.
Nggak besar sih. Dan yang bikin salut bukan soal fee, tapi caranya. Dia nggak maksa, cuma satu kalimat sederhana: “Udah tutup, bang.” Dan kita semua langsung percaya. Keren. Pasti abang drivernya anak murid Uya Kuya.

Jadwal kita diklat bisa dibilang padet banget. Mulai jam 8 pagi, kelar jam 5 sore. Setiap hari. Disiplin. Konsisten. Tidak mengenal belas kasihan.

Makanya kalo mau jalan2, opsinya cuma malem. Masalahnya, wisata malam itu nggak semua tempat cocok. Tapi karena semangat eksplorasi lebih besar daripada logika, kita tetap gas.

Salah satu destinasi wajib di Batam: Jembatan Barelang. Ikonik. Landmark. Kalau ke Batam nggak ke sini, rasanya ga lengkap. Di mobil udah kebayang foto-foto dengan background jembatan megah, lampu cantik, angin laut, suasana estetik ala-ala luar negeri.

Sampai sana jam 7 malam. Dan ternyata, zonk. Jembatannya gelap. Lampu nggak nyala. Laut nggak kelihatan. Kita berdiri disana, saling liat-liatan, mencoba mencari sisi positif.

“Yaaa, anginnya enak sih.”

Padahal dalam hati: jauh-jauh cuma liat gelap, mending liat Ampera.

Akhirnya, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan di sana cuma makan gong-gong.

Sahabat gong-gong

Barelang boleh gelap, tapi satu hal yang pasti lebih terang: Singapura. Eaaa. Otewee liat singa ngencing…

Bagian 2: Hari Peperangan Bernama Ukom (Prakom)

0

Setelah enam tahun mengabdi dengan segala bentuk drama birokrasi, akhirnya gue bisa bilang dengan bangga sambil pamerin pin fungsional di dada dan pangkat garis dua emas di bahu: PERMISI, PRAKOM MAU LEWATTTTT.

Anjayyy. Silakan batunya diambil teman-teman. Usahakan kena kepala.

Tapi sebelum sampai ke titik itu, ada satu fase yang layak diceritain: gimana proses tes sampai dilantiknya dari awal. Tahapannya panjangggg banget, persis kek sinetron tukang bubur naik haji.

Gue pikir ini cuma urusan daftar, ikut ujian, lalu nunggu pengumuman sambil santai nyiapin caption foto pelantikan. Nyatanya, sejak daftar sampai hari H, semuanya penuh momen bengong dan bikin hah heh hoh. Perjalanan naek gaji emang seribet itu, ya.

Awalnya dimulai dari chat temen kantor, si Zikri. Doi merupakan junior gue di kantor dan kampretnya udah jadi Prakom sejak zaman megawati.

Di tanggal 13 Maret 2025, dia ngasih edaran Pembukaan Ukom Prakom. Bukannya terima kasih malah gue bales pake stiker wa mukanya dia. Emang laknat.

Dari surat itu, batas akhir submit form pendaftaran adalah 22 Maret. Tapi gue santai. Terlalu santai malah. Isi kepala gue masih debat internal: ikut apa nggak, atau sekalian cari JFT lain yang namanya lebih ramah di kuping.

Tanggal 19 Maret, entah angin dari mana, tiba-tiba gue kepikiran buat daftar. Padahal salah satu syarat pentingnya adalah rekomendasi pimpinan, yang itu aja udah bikin mikir dua kali. Belum lagi harus nyiapin PAK, yang konon kabarnya adalah dokumen keramat buat naik pangkat. Intinya, selain harus yakin sama diri sendiri, gue juga harus yakin kalo orang lain mau tanda tanganin masa depan gue. 

21 Maret, surat rekomendasi pimpinan resmi turun. Gue kirim ke pusat karena masih butuh surat pengantar, dan ajaibnya, hari itu juga langsung kelar. Sat-set tanpa drama. Keren emang kementerian gue. Bentar, mau cium logonya dulu.

Selanjutnya, hidup gue resmi masuk fase nunggu. Nunggu jadwal pengumuman, nunggu kapan THR lebaran. Setiap buka email, deg-degan. Setiap notif masuk, berharap dari panitia. Ternyata dari Akulaku: “Hai, jangan lupa bayar tagihan Akulaku ya.” Anti klimaks.

Hari-hari berikutnya diisi dengan sok sibuk. Pura-pura santai di kantor, padahal kepala isinya skenario terburuk: kalo ga lolos gimana ya, kalo gagal gimana ya, kalo Prabowo dikudeta gimana ya. Tapi di luar itu semua, gue tetap bertingkah seperti pegawai dengan gaji rendah pada umumnya. Dateng, narok tas, berak. Repeat.

Sampai akhirnya jadwal tes keluar. Gue baca pengumumannya pelan-pelan: 24 April 2025 di BPS Provinsi Sumsel. Lokasi serius, tanggal serius, mental bercanda. 

Sebelum ujian, kita dimasukin ke grup WhatsApp peserta regional Sumsel. Disitu dibagiin modul, kisi-kisi, dan materi PDF yang namanya sangat ngga ramah lingkungan. Grupnya mendadak aktif, isinya orang-orang saling sapa sok santai, padahal keliatan jelas ini semua lagi panik berjamaah. Gue download semua materi, soal dibaca atau nggak, itu nanti. Yang penting sudah ada di HP, biar pas gagal bisa bilang: “Gue sebenernya punya bahannya, cuma ga gue baca. Sengaja, mau ngetes ilmu.” 

Anjay. Kelas. 

Di luar materi resmi, gue juga belajar dari grup Telegram CPNS Prakom. Grup yang isinya campur aduk antara orang jenius, orang sok jenius, dan orang yang tiap hari nanya hal yang sama tapi dengan kata-kata berbeda. Berdasarkan pengalaman waktu ikut CPNS dulu, grup kayak gini justru lebih berguna daripada modul resmi, karena isinya sharing soal langsung, bukan sekedar teori.

Gue juga belajar dari ChatGPT. Awalnya gue kira ini aplikasi khusus buat curhat jam dua pagi, nanya hal-hal receh, atau minta validasi pas hidup lagi kacau. Tapi ternyata bisa juga dipake buat belajar Prakom. Keren. 

Ini salah satu contohnya. Tips biar hapal 7 OSI Layer. Nangka ga lu pada?

Hari peperangan pun tiba: 24 April 2025. Sebelum berangkat, tentu saja gue cium tangan istri sambil minta doa, dan minta duit parkir. Karena dalam rumah tangga, doa itu penting, tapi receh dua ribuan jauh lebih penting. 

Gue berangkat ke kantor dulu buat finger absen. Iya, karena gue cuma izin setengah hari ke koordinator. Setengah hari kerja, setengah hari mengejar takdir (dan jabatan). FYI, hampir nggak ada yang tau kalau gue lagi ujian. Sengaja, biar kalau nggak lulus, ga malu-malu banget. Tapi kalau lulus, seluruh dunia harus tau. Wkwkw

Grup wa sudah berbunyi, pelaksanaan ujian di lantai 2.

Dengan semangat naik gaji yang (katanya) bisa lebih dari sejuta, alias cukup buat ngajak bini makan mie gacoan tiap minggu, gue masuk ke ruang ujian dengan aura calon PNS sukses yang di masa pensiun bakal nyalon gubernur.

Gue nyari tempat duduk dengan kalem, tak lupa mulut sembari berdzikir. Masya Allah. Jangan dipuji teman-teman, aku malu. Ternyata posisi gue strategis banget: duduk tepat di depan ruang server. Seolah-olah semesta bilang: “Lu mau jadi Prakom? Nih, server duluan yang ngeliatin lu.”

Cari aja, gue di depan ruang server, di samping mas-mas berkumis tipis dan berjenggot tebal.

Di sebelah gue ada mas-mas dari BPOM. Kok gue tau dia dari BPOM? Ya karena dia yang ngomong duluan, bukan gue. Demi Allah bukan gue duluan yg ngajak kenalan. Kalian jgn suudzon.

Waktu ujian pun dimulai. Sebenernya gue pikir tes Prakom itu cuma formalitas doang: dateng, ngerjain soal, pulang. Ternyata enggak. Ternyata ada momen yang bikin gue beberapa kali bengong depan layar sambil mikir, “oh, jadi selama ini gue belum sepinter itu ya.” Dari luar keliatan tenang, padahal di dalem kepala lagi chaos, doa keluar semua, dan keringet dingin turun tanpa aba-aba. 

FYI tesnya dibagi tiga sesi. Sesi pertama ada Ukom teknis pilihan ganda. Gue lupa berapa soal, yang jelas ga sampe seratus. Abis itu lanjut esay 3 soal. Di bagian ini gue ngerasa kayak lagi nulis skripsi versi hemat kuota: mikir keras, ngetik sok pinter, sambil berharap penguji mikir, “Wah ini anak pinter, padahal gue cuma lagi mengarang bebas.

Istirahat sekitar 15 menit. Waktu yang ideal buat mikir jawaban tadi salah semua, minum air putih, dan merenungkan pertanyaan dimana ijazah asli Joko…

Terus lanjut Ukom mansoskul. Ini bagian paling spiritual. Soalnya jawabannya tuh harus memposisikan kita sebagai manusia paling bijak, paling empati, paling penyabar, dan paling tidak mungkin menghina pemerintah.

Di pertengahan ujian, tiba-tiba sistem ngadat. Layar freeze, kursor nggak respons, suasana ruang ujian mendadak kek massa demo. Ada yang manggil panitia, ada yang garuk kepala, ada juga yang cuma menghela napas sambil bilang, yaelah. Yang terakhir itu gue.

Setelah di-refresh, sistem balik. Tapi semua jawaban gue ilang. Kosong. Nihil. Seperti saldo rekening. Untungnya ternyata sistemnya cuma ngacak ulang soal, dan jawaban yang tadi udah gue isi masih kesimpen. Alhamdulillah, iman kembali stabil. Rencana untuk menghujat pemerintah pun gue urungkan.

Selesai ujian, gue langsung pulang. Nggak ada selebrasi, nggak ada slow motion keluar gedung sambil joget2. Cuma naik motor sambil mikir: Ya Allah lulus ya Allah. Aamiin.

Oke, keknya cerita ini udah panjang banget. Next gue lanjutin. Babay.

PERJALANAN PANJANG MENJADI PEJABAT fungsional

0

Menutup tahun 2025 ini, izinkan gue curhat smbil ngedumel sebentar:

ENAM TAHUN. Enam tahun itu bukan waktu yang sebentar, bisa dipake nyicil Nmax sekali, nyicil iphone dua kali, bahkan Kakanwil Sumsel aja bisa ganti sampe 5 kali. Orang2 datang lalu naik level. Sementara gue? Masih setia di sini, ngerjain hal yang sama, dengan pengalaman yang nambah tapi tunjangan ga nambah-nambah.

Di tahun keenam pengabdian ini, tepatnya di November 2025, akhirnya gue dilantik jadi Jabatan Fungsional Tertentu (JFT). Iya, bapak-ibu sekalian… anak hilang ini akhirnya punya rumah. Sebuah momen yang mestinya penuh sukacita, persis kek ngeliat saldo BRI tinggal 14 ribu, tapi seneng karena cicilan SK udah lunas. Seneng karena akhirnya menyandang gelar Pranata Komputer, tapi sedih inget perjalanan panjangnya.

 Izin ngelap ingus, ketua.

Bayangin, kita udah nguli di kantor dari era snack kotak isi jajanan pasar cinde (skrg snacknya udah bella cake), eh tiba-tiba ada CPNS baru masuk, langsung jadi JFT, gaji naik, status naik, persentase jadi mantu idaman juga naik.

Sementara kita masih ngetik laporan di pojokan, make headset yg rusak sebelah, sambil pura-pura nggak denger mereka bahas tunjangan fungsional yang berjuta-juta. Sakit, tapi ngga berdarah.

“Ini bocah yang baru dateng aja bisa langsung glory, kok gue masih stuck di epic?”

Tapi gue coba sabar. Semua akan indah pada waktunya. Ya... walau waktu gue indahnya datengnya lama.

Intermezzo dikit, jabatan gue pas masuk CPNS adalah Pengelola Teknologi Informasi. Jabatan yang keren dan meyakinkan. Tapi perlahan menjadi menyakitkan karena itu cuma JFU dan berada di grade 6 selama bertahun-tahun.

Yang lebih ajaib lagi, angkatan gue (angkatan 2018) itu ternyata angkatan “percobaan.” Iya, semacam pilot project. Kayak soft launch aplikasi yang masih banyak bug, tapi sudah dilepas ke publik. Setelah kami, nggak ada lagi orang yang diterima dengan jabatan seperti ini. Jadi kalau ada yang nanya, “Kak, kamu S1 komputer kan, kok jabatannya bukan Prakom??”

Ya karena kami ini limited edition. Bukan limited yang mahal, tapi limited karena produk gagal. 

Gue pun masih bertanya-tanya, “Jabatan aku tu apa, sih? Fungsional? Struktural? Karyawan magang?”

Di tahun 2021, ada angin segar yang berhembus. Terbitlah Permenkumham no 10 thn 2021, isinya lebih kurang merubah jabatan CPNS angkatan 2018, yg semula dari grade 6 menjadi grade 7 (dengan rincian daftar jabatan terlampir).

Sudah siap-siap senyum, siap-siap traktir bakso, siap-siap upload story dengan caption “level up..”
Tapi…. ternyata itu bukan angin segar, cuma angin muson barat, bikin pilek. 

Dari 13 temen angkatan yg ada di Kanwil Kemenkumham Sumsel, 11 orangnya pada naik grade, kecuali jabatan gue dan temen gue, BAYANGIN, CUMA JABATAN GUE YG GAK NAIK.

Kayak ngeliatin temen-temen berenang di Amanzi, sementara lo cuma nunggu di meja, disuruh jaga tas.

SAKITTTTTT. APA DOSA BILQIS YA ALLAH...

Tapi, setelah semua itu gue sadar: mungkin bukan grade, bukan tunjangan, dan bukan jabatan yang bikin gue bertahan. Mungkin karena gue masih punya semangat. Mungkin karena kerja ini udah jadi bagian hidup gue. 

Yah, begitulah. Meskipun roller coaster banget, ujungnya tetep dilantik juga jadi Pranata Komputer (yang katanya selevel sama dewa).

Dah dulu ya, next gue tulis perjalanan test prakomnya (kalo inget, kalo sempet)

Kenalin, Willi, Calon Prakom Madya, siap merestart modem anda kalo wifinya gangguan.

Gais, GUE UDAH NIKAH!

0

Kalau ada mesin waktu, mungkin gue bakal mampir sebentar ke versi diri gue di usia 22-an dan bilang, "Bro, siapkan diri. Rencana umur 30 itu bakal di-skip. Kamu bakal nikah di 27."

Pasti gue ngakak kenceng banget. Karena dulu, gue termasuk penganut aliran nikah nanti-nanti aja. Maksudnya, bukan karena anti atau belum nemu orangnya. Tapi karena... ya pengin aja semua "to-do list" di usia 20-an kelar dulu: karier, eksplor diri, healing ke mana-mana (walau pun akhirnya healing-nya cuma ke Indomaret), dan tentu, cukup tabungan buat nikah yang nggak pakai ngutang. 

Makanya, gue pernah kepikiran buat nikah di umur 30 aja.

Tapiii, ngga, deng. gue pengen nikah umur 30 karena.... cicilan bank gue selesai di umur segitu. Iya, gue pernah mikir, "Gue mau masuk ke dunia pernikahan dengan kepala tegak dan rekening tanpa beban." Bisa senyum lebar ke penghulu sambil bilang, “Tenang Pak, cicilan udah lunas.” Kebayang dong, betapa kerennya?

Tapi ya namanya hidup, suka bercanda. Rencana gue bubar di tengah jalan, lebih tepatnya di umur 27, waktu gue memutusukan buat nikah. Cicilan masih sisa 3 tahun lagi, dan kepala gue nggak bisa tegak sepenuhnya waktu akad, soalnya sambil mikir: “Nanti kalau bini gue minta honeymoon ke Dubai, ini yang bayarin siapa? Gue masih nyicil loh.”

Ternyata, meskipun belum lunas di bank, hati gue udah lunas duluan. Ah. Gue pun sadar: kadang hidup nggak nunggu semuanya beres dulu. Kadang, yang bikin kuat justru karena kita jalanin bareng, bukan nunggu semua rapi dulu baru mulai.

Waktu itu, semuanya ngalir gitu aja. Nggak ada adegan dramatis sinetron: “Mau nggak sehidup semati sama aku?” Tapi lebih kayak: nyaman, cocok, satu frekuensi, terus mikir, “Kenapa harus nunggu 30 ya, kalau yang ini kayaknya udah the one, ya?”

Dan… akhirnya, gue menikah di usia 27, di Maret 2023 kemaren. Bukan karena target sudah tercapai semua (belum banget malah), tapi karena rasa siap itu ternyata nggak selalu datang karena kita sudah punya segalanya. Kadang dia datang karena kita punya seseorang yang bikin kita ngerasa udah punya semuanya.

Fast forward ke sekarang, anak gue udah umur 17 bulan. Lagi lucu-lucunya. Lagi susah-susahnya juga, sih. Soalnya kalo malem suka tiba-tiba ngigau sendiri. Agak serem. Tapi serius, gue nggak nyangka, dari seseorang yang dulu takut punya tanggung jawab segede itu, sekarang bisa ngegendong sambil nyanyi lagu yang bahkan nggak ada nadanya.

Gue jadi sadar: ternyata hidup nggak harus sesuai rencana untuk tetap indah. Kadang, yang spontan itu justru yang terbaik.

Nikah di umur 27 bukan hal yang dulu gue rancang, tapi bukan berarti itu keputusan yang salah. Justru, hidup gue jadi lebih penuh warna, meski juga penuh drama, popok, dan cocomelon.

 

Salam,

 

Willi, si bapak anak satu.

FIVE YEARS RECAP – Bagian Dua

1

Hai. Kembali lagi melanjutkan postingan sebelumnya

Last post kemaren recap dari tahun 2016, saat itu status gue masih sebagai mahasiswa magang. Kalo sekarang? Behhh. Jangan ditanya. Masih magang dong :(( Gak, gak, sekarang mah udah kerja. Udah bisa gaji anak-anak magang. Astagfirullah sombong. Maafin Baim ya Allah. Maafin Baim.

2018
Di tahun 2018, gue masih kerja part time jadi wartawan disini. Pernah dapet tawaran buat full time, tapi harus tes ulang. Karena gue tipe yang males memulai kembali yang udah pernah dirasain, dan pengen nyari pengalaman baru juga, akhirnya Februari 2018 memutuskan untuk resign.

Di sela-sela kesibukan menjadi pengangguran dan beban keluarga, gue juga menerima jasa pembuatan laporan skripsi dan program anak IT. Iya, gue ga bohong, salah satu alasan gue lama lulus juga karena masih sempet-sempetnya ngejokiin skripsi temen kelas. Sungguh cinta dunia sekali. Lumayanlah hasilnya buat menghidupi biaya anak istri tetangga.

 
Chat dari adik tingkat dulu wkwkw

Setelah jenuh di rumah mulu ngoding depan laptop, gue pun mulai bergerak melayangkan beratus-ratus lamaran pekerjaan via email. April 2018, gue mulai nyoba untuk drop cv ke perusahaan langsung. Inget banget pertama drop cv ke 4 perusahaan dan semuanya dipanggil interview. Next time gue bikin postingan terpisah deh tentang job seeker. Hingga di bulan Juli 2018, gue keterima jadi IT Support di PT. Elnusa Petrofin TBBM Kertapati, yang mana inget banget tes pertamanya dulu H-1 Idul Fitri. Bisa dibayangkan? Hahaha  

Kerja disini (EPN Kertapati) jadi momen gue bertumbuh. Mulai memahami gimana kerja sama atasan dan mitra, membangun koneksi sama temen IT se-Indonesia, membangun hubungan dengan temen kerja yang punya berbagai latar belakang. Pokoknya, bisa dibilang disini gue bagai menemukan ‘pengalaman kerja’ sesungguhnya, ga kek di tempat sebelumnya. Disini gue diperlakukan seperti keluarga, dengan posisi gue sebagai anak bungsunya (karena disitu udah berumur semua, gue paling muda). 


KRU EPN

Disini juga jadi momentum berubahnya orientasi seksual gue (anjayyyyyy, ga gitu, gue masih normal). Maksudnya, gara-gara kerja disitu, gue jadi menyukai perempuan yang lebih dewasa dari gue. Karena apa? Ya lingkungannya tadi. Dan rasa suka sama yang lebih dewasa itu, masih berlangsung sampe sekarang, saat tulisan ini dibuat. Juni 2021. Is it normal thing right?

Di tahun 2018, kota gue, Palembang menjadi salah satu tuan rumah dalam event skala besar, yaitu ASIAN GAMES. Seluruh masyarakat Sumsel khususnya Palembang bisa terlibat dalam ajang bergengsi itu. Gue sendiri terlibat sebagai volunteer dan Tim IT. Kebetulan open recruitment-nya ketika gue masih nganggur. Terus ga lama ada oprec lagi jadi tim Network Engineer, tugasnya instalasi jaringan di venue dan monitoring selama pelaksanaan. Baik jadi volunteer dan Tim IT semuanya udah gue jalanin, tapi berhenti di tengah jalan karena gue keterima di EPN. Gapapa lah, setidaknya udah berpartisipasi di event dunia. Ehehehe


Satu-satunya foto yang gue punya pas Asian Games :')

2019
Januari 2019, setelah kerja selama 6 bulan di PT. Elnusa Petrofin TBBM Kertapati, gue pun memutuskan untuk resign dan fokus ke pekerjaan yang sangat diminati dan digadang-gadangkan sebagai pekerjaan menantu idaman oleh ibu-ibu arisan: PNS.


Foto tes cpns di BKN. Muka-muka pengangguran banget.

Di  tahun itu gue lulus jadi Pegawai Negeri Sipil di Kementerian Hukum dan HAM. Seleksinya sendiri udah dari bulan September 2018, selagi gue masih kerja di EPN. Seriously, gue ikut tes sembunyi-sembunyi ga izin karena ga enak sama temen kantor. Makanya pas gue keterima dan bos tau, langsung berasa dibenci seluruh umat. Berasa menghianati cinta pertama yang dibangun dengan setulus hati wwkwkw but at the end, bos gue tetap merelakan dan mendoakan gue. (Nanti dibikin postingan khusus pas kerja di EPN, unforgetable memory lah pokoknya!)

Bisa dibilang, tahun 2018 jadi tahun gue berpetualang dan memperoleh pengalaman terbaik. Karena disitu gue banyaakkkkkk banget belajar. Dan tahun 2019 ini, cuma bagian dari menikmati hasil kerja keras di tahun 2018 aja.

Di tahun 2019 ga banyak cerita, gue statusnya masih CPNS, yang dapet penempatan di Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Selatan (Kanwil Kemenkumham Sumsel). Alhamdulilah dapet di domisili sendiri, meski dalam hati pengen banget penempatan di Jakarta, tpi takdir belum berkehendak. Next time gue tulis pengalaman mengikuti Tes CPNS Kemenkumham, deh. Lebih spesifik ke jabatan yang gue ambil, yaitu Pengelola Teknologi Informasi.

 
Foto pas awal CPNS. Sudah mengalami peningkatan muka. Alhamdulilah

Selain itu, 2019 juga berhasil merubah hidup gue jadi lebih….. entahlah, berwarna, atau malah lebih gelap. I found a girl, but blabla. Shit. hhhhh

2020

Tahun 2020 juga tidak ada perubahan. Berat badan masih segini-gini aja, tampang juga masih kalah dengan Keenan Pearce. Tapi, setidaknya di tahun 2020 udah dilantik jadi PNS. Itu artinya gue udah bisa pake seragam dan pamer foto di instagram buat merayu dedek dedek kuliahan. WKWKW ga gitu sobat. Selain itu, gue juga udah bisa minjem duit di bank karena udah punya SK pegawai tetap. WKWKWKWKWK becanda min, jangan serius serius.


Ganteng.